Empat Tahun Bangun Budaya Pilah Sampah, Kelurahan Baru Kini Jadi Rujukan

MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Penerapan kebijakan pemilahan sampah dari sumber di Kota Makassar sejak 1 Agustus 2026 bukan hal baru bagi warga Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang.

Selama sekitar empat tahun, kelurahan yang dipimpin Fajar Harianto itu telah membangun budaya memilah dan mengolah sampah dari rumah.

Bahkan, TPS 3R Karebosi kini menjadi tempat belajar bagi sekolah, komunitas, instansi hingga daerah lain yang ingin mengembangkan pengelolaan sampah berbasis lingkungan.

Fajar mengatakan tantangan terbesar bukan sekadar menyediakan fasilitas pengolahan, melainkan mengubah kebiasaan masyarakat.

“Yang paling sulit itu mengubah kebiasaan. Masyarakat harus memahami bahwa sampah bukan hanya dibuang, tetapi harus dikelola bersama,” ujarnya saat menjadi narasumber Coffee Morning Dinas Kominfo Makassar, Rabu (5/8/2026).

Baca Juga : Panaikang Siapkan Teba, Komposter dan Bank Sampah, Warga Diminta Tak Khawatir Pilah Sampah

Berbekal pengalaman bekerja di kapal pesiar dan pernah bertugas di Dinas Lingkungan Hidup Makassar, Fajar kemudian membawa konsep pemilahan sampah ke Kelurahan Baru sejak dipercaya menjadi lurah pada 2021.

Ia aktif mengedukasi hotel, restoran, rumah sakit, pelaku usaha hingga sekolah agar memilah sampah sejak dari sumber. Upaya tersebut semakin berkembang setelah TPS 3R Karebosi beroperasi pada 2023, sehingga sampah organik yang telah dipilah memiliki tempat pengolahan.

Sampah organik kemudian dimanfaatkan untuk budidaya maggot dan kompos. Kapasitas pengolahan yang sebelumnya hanya sekitar 150–200 kilogram per hari kini meningkat menjadi sekitar 600 kilogram per hari.

Pengelolaan tersebut juga mulai memberikan nilai ekonomi. Budidaya maggot mampu menghasilkan sekitar 30–50 kilogram per hari dengan harga jual berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.

Kelurahan Baru juga mengembangkan sistem penukaran pupa maggot serta desain rumah budidaya berukuran 1 x 2 meter yang mampu mengolah hingga 80 kilogram sampah organik per hari.

Namun, Fajar menegaskan orientasi utama program bukan mengejar keuntungan, melainkan mengurangi sampah sekaligus membangun kesadaran masyarakat.

Baca Juga : Kolaborasi Warga dan Yayasan Peduli Negeri Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi

“Yang paling penting masyarakat memilah sampah dari rumah. Kalau dilakukan bersama-sama, pekerjaan pemerintah menjadi lebih ringan dan lingkungan semakin bersih,” katanya.

Untuk mencegah sampah yang telah dipilah kembali tercampur, Kelurahan Baru menyediakan layanan penjemputan sampah organik setiap Senin, Rabu dan Jumat dengan armada khusus.

Kini, TPS 3R Karebosi tak hanya menjadi fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga laboratorium pembelajaran. Berbagai sekolah, komunitas, instansi dan daerah datang untuk melihat langsung sistem yang dibangun dari tingkat kelurahan.

Fajar berharap budaya memilah sampah terus menjadi kebiasaan warga, bukan sekadar mengikuti program pemerintah.

“Pemilahan sampah adalah kewajiban masyarakat. Pengelolaannya menjadi tanggung jawab pemerintah bersama RT dan RW sebagai mitra. Semua harus berjalan bersama,” tegasnya. (*)