Pilah Sampah Sejak 2025, RT 04 Tamangapa Jadi Contoh Kolaborasi Warga

MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Budaya memilah sampah dari sumber telah diterapkan warga RT 04/RW 07, Cluster Berlian Permata, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, sejak 2025. Konsistensi warga dan kolaborasi berbagai unsur membuat kawasan ini menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Makassar.

Ketua Bank Sampah Unit (BSU) Cluster Berlian Permata, Nirma Naim Subair, mengatakan pemilahan sampah telah dilakukan jauh sebelum kebijakan Pemerintah Kota Makassar yang mewajibkan pemilahan dari sumber mulai 1 Agustus 2026.

Menurutnya, kawasan tersebut sebelumnya juga menjadi lokasi pembelajaran peserta pelatihan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang difasilitasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar.

“Pemilahan sampah sudah kami lakukan sejak tahun lalu. Program ini terus berjalan, hanya saja belum seintens sekarang karena saat itu belum ada aturan yang mewajibkan,” ujar Nirma, Selasa (4/8/2026).

Baca Juga : Pilah Sampah dari Rumah, RT di Rappokalling Jadi Contoh Sukses Kelola Sampah

Sejumlah sarana pengelolaan sampah disiapkan secara bertahap, mulai dari ember untuk sampah organik di lorong-lorong, dropbox botol plastik hingga tempat pengumpulan daun kering yang kemudian diolah menjadi kompos.

Gerakan tersebut melibatkan berbagai unsur, seperti pengurus RT, BSU, pengurus masjid, Kelompok Wanita Tani (KWT), kelompok perikanan, pemerintah kelurahan serta OPD terkait.

“Intinya tidak ada yang berjalan sendiri. Semua lembaga kami integrasikan agar program lebih mudah dijalankan,” katanya.

Edukasi juga dilakukan melalui sosialisasi dari rumah ke rumah, termasuk pengenalan pembuatan eco-enzyme dan kegiatan lomba kebersihan antarblok. Meski demikian, Nirma mengakui belum semua warga konsisten memilah sampah setiap hari sehingga edukasi harus terus dilakukan.

Penerapan kebijakan pemilahan sejak 1 Agustus 2026 turut meningkatkan volume sampah organik yang berhasil dipisahkan. Jika sebelumnya hanya sekitar seperempat hingga setengah karung per hari, kini jumlahnya dapat mencapai dua karung.

Baca Juga : Jelajah Sampah di Ujung Pandang, Ketua PKK Makassar Dorong Warga Pilah Sampah dari Rumah

Peningkatan tersebut sekaligus menjadi tantangan karena kapasitas pengolahan organik di lingkungan perumahan masih terbatas. Sebagian sampah diolah secara mandiri, sementara lainnya dikirim ke lokasi pengolahan lain.

Untuk sampah anorganik bernilai ekonomi, warga memanfaat­kan bank sampah dan dropbox plastik. Material seperti kardus juga dijual langsung atau disalurkan ke Bank Sampah Pusat.

Nirma menegaskan pengelolaan sampah di kawasan tersebut masih terus dibenahi. Menurutnya, pengolahan sampah organik membutuhkan perhatian khusus agar tidak menimbulkan bau dan mengganggu kenyamanan warga.

“Kami tidak berani mengatakan sudah sempurna. Yang terpenting program ini terus berjalan, sambil terus belajar dan mengedukasi masyarakat,” pungkasnya. (*)