KORANMAKASSAR.COM — Setiap tahun, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai pengingat akan komitmen bangsa terhadap pendidikan. Sekolah-sekolah menggelar upacara, pidato-pidato menegaskan pentingnya belajar, dan masyarakat diajak untuk merefleksikan sejauh mana kemajuan yang telah dicapai.
Memang, Indonesia telah menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Dalam beberapa dekade terakhir, akses terhadap pendidikan meningkat secara pesat. Data dari World Bank menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah dasar di Indonesia kini mendekati universal.
Program pemerintah seperti wajib belajar dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) telah membantu jutaan anak untuk dapat mengenyam pendidikan yang sebelumnya sulit dijangkau.
World Bank juga mencatat bahwa jumlah peserta didik di Indonesia meningkat lebih dari 10 juta atau sekitar 31% dalam beberapa dekade terakhir, seiring dengan peningkatan signifikan dalam belanja pendidikan nasional.
Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah pendidikan di Indonesia benar-benar telah mengubah kehidupan, atau hanya sekadar memperluas akses?
Sekilas, angka-angka tersebut tampak menggembirakan. Tingkat melek huruf meningkat, partisipasi sekolah tinggi, dan pembangunan infrastruktur pendidikan terus berjalan.
Indeks Modal Manusia Indonesia yang dilaporkan oleh World Bank juga menunjukkan tren yang membaik.
Namun, skor Human Capital Index Indonesia berada di sekitar angka 0,54, yang berarti seorang anak yang lahir hari ini diperkirakan hanya akan mencapai sekitar 54% dari potensi produktivitas maksimalnya jika mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang ideal.
Laporan dari UNESCO menyoroti bahwa banyak siswa di negara berkembang, termasuk Indonesia, masih mengalami kesulitan dalam keterampilan dasar seperti membaca dan berhitung meskipun telah bertahun-tahun bersekolah. Dengan kata lain, anak-anak hadir di sekolah, tetapi tidak semuanya benar-benar belajar.
Pendidikan seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak anak yang duduk di bangku sekolah, tetapi dari apa yang mampu mereka lakukan setelahnya.
Di Indonesia, semakin terlihat adanya kesenjangan antara sekolah dan keterampilan.
Banyak lulusan menghadapi kesulitan memasuki dunia kerja, bukan karena tidak memiliki ijazah, tetapi karena kurangnya kompetensi yang relevan.
Dunia usaha sering kali menemukan ketidaksesuaian antara apa yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Kesenjangan ini semakin terasa di daerah pedesaan dan wilayah tertinggal, di mana kualitas pendidikan cenderung tertinggal dibandingkan dengan daerah perkotaan.
Keterbatasan guru berkualitas, sumber belajar, dan akses teknologi semakin memperlebar jurang tersebut.
Akibatnya, pendidikan berisiko menjadi proses formal tanpa dampak yang nyata.
Pendidikan seharusnya tidak hanya membuat seseorang mampu membaca dan menulis, tetapi juga mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, berkontribusi secara produktif dalam kehidupan ekonomi dan jalan menuju pemberdayaan.
Bagi Indonesia, dengan jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat besar, keterhubungan ini menjadi sangat penting.
Namun, ketika pendidikan tidak terhubung dengan realitas ekonomi lokal, dampaknya menjadi terbatas.
Bayangkan sebuah sistem pendidikan yang membekali siswa dengan literasi keuangan praktis , mengintegrasikan kewirausahaan dalam pembelajaran dan menghubungkan sekolah dengan dunia usaha dan komunitas lokal
Pendekatan seperti ini tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi melahirkan individu yang berdaya dan mampu menciptakan perubahan.
Sejalan dengan itu, World Bank menegaskan bahwa investasi pada pendidikan dan Kesehatan yang umumnya kita kenal sebagai human capital merupakan kunci utama bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, Indonesia berada pada titik penting.
Bangsa ini telah berhasil memperluas akses pendidikan. Itu adalah pencapaian yang patut diapresiasi.
Namun, langkah berikutnya jauh lebih menantang:
Memastikan bahwa pendidikan benar-benar memberikan dampak nyata dalam kehidupan Masyarakat, sehingga perlu adanya pergeseran fokus yakni dari akses menuju kualitas, dari kehadiran menuju pembelajaran dan dari ijazah menuju kompetensi.
Kita sering menggaungkan bahwa pendidikan adalah kunci masa depan. Namun, kunci hanya akan bermakna jika mampu membuka pintu.
Selama pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya menghadirkan peluang nyata, keterampilan yang relevan, dan pemberdayaan ekonomi, maka janji pendidikan masih akan tetap setengah terpenuhi.
Dan mungkin, makna sejati dari Hari Pendidikan Nasional bukan hanya pada perayaan, tetapi pada keberanian untuk mengakui dan memperbaiki apa yang masih perlu diubah.
Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional.
Semoga momentum ini tidak hanya menjadi refleksi bagi Indonesia, tetapi juga menginspirasi kita semua di mana pun berada bahwa pendidikan bukan sekadar jalan menuju pengetahuan, melainkan kekuatan untuk mengubah kehidupan, membangun kemandirian, dan menciptakan masa depan yang lebih adil bagi semua. (*)
Penulis: Yohana Martin Pattanggau, S.E., M.M, CA


Komentar