oleh

Dosen Unismuh Makassar Membedah Puisi “Turatea Bertutur”

MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — DR. H. M. Agus, S.Pd, M.Pd, salah seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Makassar melalui kesempatan acara bedah puisi, mengungkapkan kegelisahan dan kerinduannya melihat budaya dan kearifan lokal yang sudah terkikis di era modernisasi di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

“Judul puisi Turatea Bertutur menggunakan majas personifikasi. Turatea adalah slogan yang disematkan untuk nama daerah Kabupaten Jeneponto. Apa arti Turatea? Turatea artinya orang yang berada di atas. Hal ini menunjukkan bahwa orang Jeneponto itu mempunyai harkat dan martabat tinggi, sehingga di Jeneponto banyak orang yang bergelar bangsawan, karaeng,” tutur Agus.

Lewat puisi tersebut, Agus memperkenalkan Kabupaten Jeneponto yang dikenal dengan sebutan Turatea sebagai negeri para pemberani, negeri para pemangku adat, negeri ramah dan santun berbudaya, negeri yang penuh pesona, negeri yang menjunjung tinggi Siri na pacce, negeri yang terkenal dengan kuda dan lontaraknya, negeri yang begitu panjang dan menjenuhkan, tapi kini semua tinggallah cerita.

Hal itu ia ungkapkan pada acara Bedah Puisi “Turatea Bertutur”, yang diadakan Perpustakaan Pusat Unismuh Makassar,  di Gedung Perpustakaan Pusat Kampus Unismuh Makassar, selasa (21/6/22).

baca juga : Penggalan Puisi Danny- Fatma Untuk Rakyat Makassar

Bedah puisi yang dibuka dengan pembacaan puisi “Turatea Bertutur” oleh Nur Annisa Syahrir, dimoderatori oleh Muhammad Rasyidi Mahmud SIP, dihadiri puluhan mahasiswa Unismuh Makassar, dan Mahasiswa Jeneponto (Hpmt Unismuh) menampilkan Dr Siti Suwadah Rimang sebagai pembahas puisi.

Dalam puisinya, Agus secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa Kabupaten Jeneponto memiliki banyak budaya dan kearifan lokal, antara lain adat budaya ajje’ne-je’ne sappara, budaya patonro, budaya tabe’ (tabik), budaya a’dengkapada.

Komentar