InaRisk
Selain aplikasi DIBI, BNPB juga memiliki aplikasi InaRISK. Jika penjelasan sebelumnya fokus pada kejadian bencana yang telah terjadi di Indonesia dan dibuktikan dengan data-data yang terkait bencana tersebut, InaRISK menyajikan informasi potensi risiko bencana di suatu daerah.
Analisis InaRISK memanfaatkan pendekatan raster base secara nasional dengan ukuran pixel 100 x 100 meter, berdasarkan kajian risiko bencana yang terdapat di suatu wilayah atau per kabupaten.
Kegunaan InaRisk, salah satu contohnya pada indeks risiko bencana gempa bumi yang berada di Indonesia. Wilayah yang berada di atas batuan dasar yang rentan (seperti pegunungan) akan sangat berisiko memakan korban dan kerusakan yang masif bila terjadi bencana. Lebih detailnya, data indeks risiko bencana di InaRISK dapat dilihat juga berdasarkan kabupaten atau kota pada menu pencarian.
baca juga : Sebanyak 2.925 Bencana Alam Terjadi Pada 2020 di Tanah Air, Bencana Hidrometeorologi Mendominasi
Kajian risiko yang telah dibuat secara detail dan kompleks ini tidak akan berguna bila kesadaran masyarakat akan bencana masih rendah. Selain InaRISK yang dapat diakses melalui dashboard, BNPB juga menyediakan dalam bentuk aplikasi yang dapat diunduh melalui Google Playstore dan Appstore. Aplikasi InaRISK Personal yang dapat diakses pada telepon pintar berbasis android dan IOS ini akan memudahkan warga untuk mengidentifikasi potensi risiko di sekitar sehingga kesadaran terhadap risiko dapat meningkat.
InaRISK Indonesia merupakan aset dari Pemerintah Indonesia. Tidak hanya BNPB yang berkontribusi dalam data, tetapi sebanyak 20 instansi yang telah memvalidasi datanya ke dalam InaRISK untuk dapat digunakan oleh masyarakat atau pengguna.
Pengenalan DIBI maupun InaRISK ini diselenggarakan Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB kepada para awak media melalui bimbingan teknis (bimtek). Bimtek tersebut dilakukan secara virtual pada Rabu kemarin (30/12).

