ENREKANG, KORANMAKASSAR.COM — Pada abad pertengahan, teknologi pertanian berkembang pesat dengan adanya revolusi pertanian, itu dibuktikan dengan adanya mesin penggiling, sistem irigasi, dan alat-alat pertanian lainnya yang mulai diterapkan secara luas, demi meningkatkan hasil produksi pertanian secara signifikan.
Dari perkembangan tersebut, Kabupaten Enrekang Sulawesi selatan mengembangkan sistim pertanian dengan menggunakan Greenhouse.
Samsul Sompa selaku Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) saat ditemui wartawan, Sabtu (29/3/25) menuturkan,.”ini merupakan alat baru terkhusus di kabupaten Enrekang, di mana Greenhouse tersebut dilengkapi beberapa aplikasi, sehingga sistim berbudaya tanaman jauh lebih memudahkan petani dibanding sistim konvensional”.
“Hadirnya Greenhouse di masyarakat untuk memperkenalkan kepada anak muda terkhusus petani-petani melenial bahwa bertani itu tidak mesti kotor, bertani itu tidak mesti berpanas-panasan, tidak perlu menguras banyak tenaga, karena lewat aplikasi dan teknologi kita bisa bertani dengan riang senang dan tidak kalah menguntungkan dibanding bertani secara konvensional.” tuturnya.
Lebih lanjut Samsul menjelaskan Greenhouse bisa diterapkan dilahan basa, seperti di Sumatra, para petani menanam padi menggunakan polibek dan jau lebih bagus pengendalian hamanya dibanding menanam di luar Greenhouse.
Baca Juga : Perdana, Bupati Takalar Perkenalkan Drone Sprayer sebagai Transformasi Pertanian Modern
Greenhouse lebih cocok digunakan pada Tanaman Hortikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan, itu lebih menguntungkan kita bertani menggunakan Greenhouse daripada secara konvensional yang ditanam di tana dan di luar.
Adanya Greenhouse di masyarakat ini, para petani tidak mengenal musim saat menanam baik musim kemarau maupun musim hujan karena dikendalikan oleh sistim, yang kedua pengendalian hama penyakit jauh lebih gampang dan lebih mudah dan murah karena serangan hama hampir tidak ada kalau di Greenhouse.
Hadirnya Greenhouse di masyarakat, tenaga para petani jauh lebih efektif dan evisien, karena kita tidak perlu lagi menyiram dengan cara menymprot kita hanya menggunakan irigasi tetes.
Dengan irigasi tetes, para petani tidak menggunakan air secara berlebihan karena kita sesuaikan dengan tanaman.
Dari alat Greenhouse ini, petani tidak menimbulkan erosi tanah, banjir, longsor karena sudah terkendali dengan alat canggi yang ada di Greenhouse itu.
“Saya berharap kepada para petani terkhusus yang ada di Enrekang, dengan melihat fakta di lapangan bahwa bertani dengan menggunakan irigasi tetes begitu tidak merepotkan, jauh lebih mudah, tidak perlu berpanas-panasan dan tidak perlu kotor, maka kedepannya pemerintah daerah perlu mendorong masyarakatnya untuk mengenal lebih jauh tentang budidaya pertanian Greenhouse,” sambung Samsul.
Lebih lanjut Samsul Sompa menuturkan, adanya Greenhouse di Kabupaten Enrekang terkhusus di kecamatan Angge raja karena sangat edentik dengan hama penyakit pada bawang merah, di kabupaten Enrekang itu sendiri sudah diperkenalkan dengan sistim kelambunisasi, yang di mana bawang itu sudah dipakaikan kelambu tapi cara tersebut tanaman bawang masih terkena hujan, jadi untuk mengendalikan suhu udara di dalamnya masih tergantung dengan keadaan cuaca dan musim.
Dengan adanya Greenhouse para petani berharap mampu mengendalikan keadaan cuaca dengan sistim Greenhouse.
Dengan percontohan ini pemerintah setempat terkhusus kabupaten Enrekang akan meningkatkan prokduktifitas bawang merah di kabupaten Enrekang.
Tak hanya di kabupaten Enrekang, Greenhouse ini sudah ada di Toraja dan Luwu timur.
“Saya berharap dengan adanya percontohan pertama di kabupaten Enrekang bisa sukses, sehingga mampu mendorong para petani untuk mencontoh dan menjadi inofasi baru,” tandas Samsul.
Tak hanya itu, Samsul juga akan membuat wisata petik melon sebagai daya tarik masyarakat untuk belajar sambil rekreasi. (*)

