Makassar, Simpul yang Menjaga Peradaban

Oleh: Andi Makmur Burhanuddin
Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Makassar

KORANMAKASSAR.COM — Ada kota-kota yang tumbuh dari kejayaan masa lalu.
Ada pula kota yang tumbuh dari amarah sejarah.
Tetapi Makassar, sejak dulu, tumbuh dari keberanian untuk menerima orang lain sebagai saudara.

Di usia ke-418, logo peringatan hari lahir Makassar hadir dengan garis-garis yang saling terhubung. Tidak ada garis yang berdiri sendiri. Setiap lengkung bertemu, setiap warna saling menguatkan. Begitu pula manusia yang hidup di dalamnya.

Bila orang tua-tua Makassar berpesan, “tannang-tannang kalengngi, jaga siri’mu,” itu bukan sekadar ajaran harga diri. Itu pesan tentang keluhuran: hormat kepada sesama, adil kepada siapa pun, dan tidak merendahkan siapa pun. Kota ini akan kehilangan keanggunannya jika kita melupakan nilai itu.

Garis pada logo HUT seperti simpul tenun: berbeda warna, tetapi memilih menyatu. Di situ saya melihat harapan. Harapan bahwa Makassar tidak berjalan mundur menjadi kota yang bising oleh caci, tapi melompat maju menjadi kota yang bijak, kota yang beradab, kota yang tidak kehilangan rasa.

Kita pernah diajarkan bahwa siri’ bukan hanya tentang nama baik, tetapi tentang kemanusiaan. Dan pacce bukan hanya tentang belas kasihan, tetapi keberanian untuk merasakan derita orang lain. Bila dua nilai itu hidup, maka kota ini tidak akan pernah menjadi asing bagi anak-anaknya sendiri.

Makassar adalah pelabuhan.
Namun pelabuhan yang sejati bukan sekadar tempat kapal singgah. Ia adalah tempat gagasan dipertukarkan, tempat mimpi bertemu, dan tempat harapan berlayar lebih jauh.

Logo itu mengingatkan kita bahwa perjalanan kota ini belum selesai. Kita masih menenun masa depan: lorong-lorong yang aman, sekolah yang ramah, ruang publik yang bersih, pemerintahan yang adil, dan warganya yang bangga karena saling menghargai.

Kita ingin Makassar menjadi kota yang modern, tetapi tidak kehilangan sopan santun. Kota yang maju, tetapi tidak lupa menyapa. Kota yang besar, tetapi tetap memeluk warganya.

Di usia 418 tahun, saya percaya satu mimpi:
Makassar menjadi kota yang bukan hanya hebat di mata dunia, tetapi damai di hati warganya.

Karena kota ini dibangun bukan oleh beton, tetapi oleh nilai.
Dan sepanjang nilai itu masih hidup—siri’ na pacce, hormat kepada sesama, kerja bersama—Makassar akan terus menjadi simpul peradaban yang tidak mudah putus.

Selamat ulang tahun ke 418, Makassar.
Semoga kita tumbuh dalam harmoni, dan tetap rendah hati dalam kejayaan. (*)