Dari “Zona Merah” ke Panggung Nasional, Jejak Sunyi Kenzou Menembus Batas

KORANMAKASSAR.COM — Di lorong-lorong sempit Kampung Kandea, utara Makassar—kawasan yang kerap disematkan label “zona merah”—seorang anak tumbuh dengan ritme yang tak banyak berbeda dari teman sebayanya: sekolah di pagi hari, mengaji selepas Magrib, lalu beristirahat ketika malam kian larut.

Namun, dari rutinitas yang tampak biasa itu, lahir jejak prestasi yang tidak biasa. Namanya Andi Muh. Gaylord Kenzou, akrab disapa Kenzou.

Di usia SMP, Kenzou telah menjelma menjadi potret langka tentang ketekunan yang konsisten. Ia bukan hanya unggul di satu bidang, tetapi menyeberangi batas-batas itu: olahraga, akademik, seni, dan keagamaan—semuanya digarap dengan disiplin yang sama.

Di arena olahraga, Kenzou mencicipi podium tertinggi melalui cabang Taekwondo tingkat nasional, menggenggam medali emas yang menjadi penanda kerja kerasnya.

Baca Juga : Kolaborasi Hijau di Makassar, Yayasan Butta Porea dan Fatayat NU Kembangkan Ecoenzym dari Limbah Rumah Tangga

Di ruang-ruang kompetisi akademik, April 2026 menjadi titik penting: ia kembali mengukir prestasi dengan meraih medali emas dalam Kompetisi Sains Nasional jenjang SMP/MTs yang diselenggarakan oleh Saintech.id.

Hampir bersamaan yaitu di awal mei 2026, ia mengunci posisi sebagai peringkat kedua Olimpiade Bahasa Indonesia tingkat Provinsi Sulawesi Selatan—sebuah capaian yang mengantarkannya ke level nasional.

Belum berhenti di situ, dalam ajang yang digelar Lembaga Kompetisi Nasional (LKN), Kenzou kembali menegaskan konsistensinya dengan menyabet peringkat pertama tingkat provinsi untuk mata pelajaran pengetahuan umum. Tiga capaian dalam waktu berdekatan, di bidang yang berbeda, menegaskan satu hal ini bukan kebetulan.

Namun, Kenzou tidak hanya berbicara dalam angka dan peringkat. Ia juga hadir di panggung-panggung yang lebih kultural. Suaranya dikenal di berbagai acara—dari resepsi pernikahan hingga kegiatan keagamaan.

Ia melantunkan lagu, sekaligus ayat suci, dengan penghayatan yang mengundang perhatian. Sebelumnya, ia juga pernah meraih juara dua dalam lomba Dai Cilik tingkat Kota Makassar—membuktikan bahwa kemampuan retorika dan spiritualitasnya berjalan beriringan.

Baca Juga : Anjaliekhan Dorong Pemberdayaan Ibu Pengolah Kepiting di Lantebung Makassar

Menariknya, semua itu tumbuh dari ruang hidup yang sering kali dipandang sebelah mata. Kandea bukanlah kawasan yang identik dengan prestasi akademik atau pembinaan bakat.

Namun bagi Kenzou, ruang tidak pernah menjadi batas mutlak. Ia justru menjadi konteks—tempat di mana daya juang ditempa.

Kini, Kenzou adalah santri kelas VII di Pondok Pesantren MDIA Bontoala Makassar. Hidupnya berjalan dalam ritme disiplin yang konsisten, pagi untuk pendidikan formal, malam untuk memperdalam ilmu agama.

Tidak ada narasi heroik yang dibuat-buat. Yang ada adalah kebiasaan kecil yang diulang setiap hari, hingga menjelma menjadi karakter.

Di sela waktu senggang, ia tetap memberi ruang bagi dirinya untuk bernapas—mengisi live music di kafe, menyalurkan minat, sekaligus mengasah keberanian tampil di depan publik. Sebuah keseimbangan yang jarang ditemukan pada anak seusianya.

Komentar