Dari Batavia ke Jakarta: Jejak Perubahan Nama Ibu Kota Republik Indonesia

KORANMAKASSAR.COM — Tidak banyak yang mengetahui bahwa sebelum dikenal sebagai Jakarta, ibu kota Indonesia pernah bernama Batavia.

Nama tersebut diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda dan digunakan selama lebih dari tiga abad sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan kolonial di Nusantara.

Secara historis, nama Batavia mulai digunakan sejak tahun 1621, setelah Belanda memperkuat kekuasaannya di wilayah Jayakarta.

Batavia kemudian berkembang menjadi kota pelabuhan penting dan pusat administrasi Hindia Belanda hingga masa pendudukan Jepang pada tahun 1942.

Memasuki era kemerdekaan Indonesia, semangat untuk meninggalkan simbol-simbol kolonial semakin menguat.

Pemerintah Republik Indonesia menegaskan identitas nasional, termasuk melalui penetapan nama ibu kota negara.

Baca Juga : 29 Desember 1891 : Thomas Alva Edison Mematenkan Radio

Tonggak penting terjadi pada 30 Desember 1949, ketika Arnold Mononutu, yang menjabat sebagai Menteri Penerangan Republik Indonesia periode 1949–1950, secara resmi menegaskan bahwa tidak ada lagi penggunaan nama Batavia. Dalam pengumuman tersebut, nama Batavia dinyatakan diganti menjadi Jakarta.

Penetapan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk menghapus warisan penamaan kolonial dan memperkuat jati diri bangsa yang baru merdeka. Sejak saat itu, nama resmi ibu kota Republik Indonesia adalah Jakarta.

Perubahan nama ini bukan sekadar pergantian istilah administratif, melainkan juga simbol perjuangan dan kedaulatan bangsa Indonesia.

Jakarta kemudian tumbuh menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, budaya, dan diplomasi nasional yang dikenal hingga hari ini.

Kini, meski berbagai dokumen sejarah masih menyimpan nama Batavia, masyarakat Indonesia mengenang perubahan tersebut sebagai salah satu langkah penting dalam perjalanan panjang pembentukan identitas nasional pascakemerdekaan. (*)