Kini Prabowo dianggap sebagai tokoh yang rileks saja, yang penuh humor. Bahkan menanggapi hal-hal yang negatif keras sekali kepadanya, respon Prabowo menenangkan.
Kesan ini sangat berbeda dengan citranya di masa silam. Dulu Prabowo dianggap angker, sangat tegang dan emosional.
Mengapa terjadi perubahan citra itu? Ujar Prabowo dengan jenaka, ia dua kali sudah dikalahkan di pemilu presiden. Karena itu ia mengubah penampilannya menjadi lebih rileks. Semua ia anggap keluarga dan teman.
Kedua, gemoy ini sebagai sebuah kata baru sangat populer di kalangan milenial. Ini memang bahasa anak- anak muda. Dua tahuh ini memang ada beberapa kata baru yang menjadi kata pergaulan. Gemoy salah satunya.
Terutama di kalangan pemain TikTok, atau TikTokers, kata gemoy itu diucapkan untuk mereka yang dianggap menggemaskan, lucu. Ini kata yang diberikan kepada orang-orang yang mereka suka, yang disayangi.
Ketiga, kata gemoy ini juga membangkitkan kreativitas bertutur. Sekarang banyak ucapan yang menyertai kata gemoy itu.
baca juga : Denny JA: Profil Elektoral 4 Tokoh Pilihan, Siapakah Akhirnya Cawapres Prabowo
Kemana pun Prabowo pergi, relawan dan publik yang hadir meneriakkan kata gemoi dengan berbagai redaksi yang berbeda. Salah satu yang populer sekarang ini adalah: Apakah boleh presiden segemoy ini?
Pilpres masih 3 bulan lagi. Gemoy menjadi branding baru yang organik dan viral. Jelaslah ini menguntungkan Prabowo jika ia tetap menampilkan citranya yang segemoy itu, yang rileks saja, yang humoris, yang akrab, menganggap semua kawan dan keluarga.
Pilpres kali ini lebih semarak, lebih humoris, karena juga mempopulerkan sebuah kosa kata baru, yang mungkin pada waktunya akan menjadi kata resmi di kamus bahasa Indonesia.*

