.
Atau Gibran akan dihembuskan isu mengkhianati PDIP. Padahal ia dan keluarganya dibesarkan oleh partai ini.
Jenis kritik dan serangan ini akan berkembang di kalangan terpelajar. Gibran bisa saja menjawab serangan dan kritik itu.
Tapi jika dilihat dari sudut efektivitas Gibran (dan Prabowo) untuk menang di pilpres, jauh lebih produktif jika Gibran mengalihkan perhatiannya bukan ke kalangan terpelajar, yang prosentasenya hanya 10 persen dari total pemiiih.
Segmen priorotas yang harus disentuh Gibran adalah Wong Cilik. Ini segmen pemilih yang tingkat pendidikan dan ekonominya rendah. Mereka banyak di desa ataupun di kota. Jumlah mereka mayoritas 60% dari populasi pemilih.
Segmen pemilih wong cilik ini lebih dekat dengan karakter Gibran. Jauh lebih memiliki efek elektoral jika Gibran sesering mungkin, sebanyak mungkin datang ke segmen wong cilik ini.
Gibran mendatangi mereka dengan membawa program ekonomi kerakyatan untuk memakmurkan, menyejahterakan rakyat kecil itu.
Dari data survei LSI Denny JA, bulan September 2023, sekarang ini Gibran dikenal oleh sekitar 65,4% dari populasi. Tapi Gibran disukai oleh 81, 2% oleh mereka yang mengenalnya.
baca juga : Denny JA: Tiga Syarat Capres yang Didukung Jokowi
Ini tingkat pengenalan dan kesukaan yang sangat tinggi untuk kualifikasi elektoral seorang calon wakil presiden. Posisi elektoral Gibran bahkan saat ini lebih tinggi dibandingkan Mahfud MD, ataupun dibandingkan Muhaimin Iskandar.
Tantangan Gibran sekarang, bagaimana ia menaikkan tingkat pengenalannya di atas 80% pada bulan Febuari 2024 kelak. Sementara tingkat kesukaan publik padanya harus tetap di atas 80 persen.
inilah cara yang jauh lebih produktif bagi Gibran untuk ikut menyumbangkan kemenangan, jika benar ia menjadi cawapres Prabowo.
Jika posisi elektoral itu bisa dicapai Gibran, maka semua kritik, serangan, hantaman yang sudah dan akan terus datang, itu justru menjadi pil pahit yang akan membuatnya menjadi pemimpin yang lebih kuat, dan lebih matang.*

