Teknologi kedua adalah penemuan mesin ketik pada abad 19. Dunia penulisan menjadi jauh lebih efisien lagi. Terjadi standarisasi penulisan. Buku pun masuk industri.
Teknologi selanjutnya yang mengubah dunia kepenulisan adalah internet, yang ditemukan manusia di akhir abad 20. Internet mampu menyebarkankan buku jadi semakin cepat, suratkabar bisa dicetak jarak jauh. Di era ini istilah online menjadi populer.
Setiap kali datang teknologi baru terjadi revolusi dalam kepenulisan.Penulis yang bertahan adalah kelompok yang mampu mendayagunakan teknologi baru: mesin cetak, mesin ketik, dan internet.
Perubahan keempat terjadi saat ini, yatu revolusi artificial intelligence. Mayoritas penulis masih gagap dengan AI. “Tapi kita membaca trend: penulis yang mendayagunakan AI juga yang nanti bertahan,” Denny JA menjelaskan.
“Pertanyaannya adalah apa yang belum bisa digantikan oleh AI saat ini dalam dunia tulis menulis?” tanya Denny.
Lebih lanjut Denny JA menguraikan, jIka seseorang menulis untuk sekedar informatif, AI sudah bisa menggantikan bahkan dengan hasil yang lebih baik.

AI juga mampu mengolah data dengan kecepatan yang luar biasa. Tulisan yang sekedar runtut dan komprehensif juga bisa digantikan AI.
Hanya satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh AI, yaitu menulis dengan kedalaman bahasa, kedalaman renungan yang sangat menyentuh hati.
“Inilah jenis tulisan yang dihasilkan penulis Divisi Satu, penulis puncak” kata Denny JA..
Satupena, organisasi penulis Indonesia, yang saat ini paling besar. Punya pengurus di 34 provinsi.
baca juga : Pemikiran Denny JA: Mazhab Baru Dalam Sosiologi Agama
“Kita memberikan apresiasi kepada penulis Divisi Satu. Satupena award adalah ucapan terima kasih kita kepada para penulis yang sudah melahirkan karya dengan bahasa yang mendalam, dengan renungan mendalam,”
Ini kualitas penulis yang belum bisa digantikan oleh AI. Tahun ini, satupena award diberikan kepada Putu Wijaya (Fiksi). Komarudin Hidayat (untuk non- Fiksi)
“Kita kini berada dalam periode yang sangat menentukan: History in the making. Sejarah disusun ulang. Juga dunia penulis disusun ulang,” ujar Denny.
Tapi kita sudah dapat formulanya. Penulis dengan kedalaman bahasa, kedalaman renungan, yang mampu bertahan. Apalagi jika ia mulai mendayagunakan alat bantu artificial intelligence.*
(Reportase oleh Jonminofri Nazir)

