oleh

Ini 3 Budaya Bugis – Makassar Yang Terancam Punah di Zaman Millenial

KORANMAKASSAR.COM — Tidak dapat dipungkiri lagi, sebagian besar masyarakat Bugis-Makassar di zaman milenial saat ini hampir tidak mengenal budaya lokalnya sendiri.

Kebanyakan masyarakat menganggap budaya hanyalah penghias sejarah di masa lampau. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan dan budayanya.

Berikut beberapa budaya dari suku Bugis-Makassar yang sudah jarang ditemui saat ini di tengah-tengah interaksi sosial antar masyarakat Sulawesi Selatan.

1. Komunitas Bissu

Bissu adalah pendeta agama Bugis kuno pra-Islam. Bissu dianggap menampung dua elemen gender manusia, lelaki dan perempuan, juga mampu mengalami dua alam yakni alam manusia dan alam roh.

Bissu banyak disalahartikan oleh masyarakat Sulawesi Selatan karena dianggap identik dengan waria, walau secara peran dan kedudukannya dalam budaya Bugis tidaklah demikian.

Peran komunitas Bissu tergolong istimewa dalam struktur budaya bugis karena dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai satu-satunya operator komunikasi antara manusia dan dewa melalui upacara ritual tradisionalnya dengan menggunakan bahasa dewa/langit ( basa Torilangi).

Cerita kesaktian para Bissu dapat ditemukan dalam kisah Arung Palakka yang pada tahun 1667 melakukan penyerbuan bersama tentara Soppeng terhadap Lamatti, sebuah distrik di Bone Selatan. Sebanyak seratus Bissu Lamatti tampil dengan senjata walida (pemukul tenun) sambil mendendangkan memmang (nyanyian). Anehnya, tak satupun senjata prajurit Bone dan Soppeng yang mampu melukai para Bissu sakti tersebut (LY Andaya, 2006, hal 106).

Dalam ritual suku Bugis yang sudah jarang kita temui saat ini yakni tradisi Maggiri’, merupakan salah satu pameran kesaktian Bissu.

Tradisi menusuk diri dengan badik ini dimaksudkan untuk menguji apakah roh leluhur/dewata yang sakti sudah merasuk ke dalam diri bissu dalam sebuah upacara, sehingga apabila sang Bissu kebal dari tusukan badik itu, ia dan roh yang merasukinya dipercaya dapat memberikan berkat kepada yang memintanya. (Sumber : indoculture.wordpress.com)

2. Sinrili’

Sinrili’ adalah sebuah alat musik tradisional suku Bugis-Makassar. Sinrili dimainkan dengan duduk bersila lengkap dengan pakaian tradisional bagi sang pemainnya.

Penutur sinrili disebut pasinrili. Diiringi alunan Sinrili, ia menuturkan cerita-cerita kepahlawanan dan keagamaan, namun terkadang juga kisah tentang cinta.

Cerita-cerita kepahlawanan umumnya berkisar tentang usaha raja-raja menentang penjajahan Belanda, sedangkan cerita keagamaan mengisahkan perkembangan agama Islam di Sulawesi Selatan dan norma-norma adat yang berlaku di masyarakat. Walaupun tema ceritanya berkisar tentang keagamaan, kisah humor kadang terselip diantaranya.

Alunan nada sinrili saat ini sudah mulai jarang didengar. Perkembangan alat musik yang lebih modern membuat generasi penerus tidak mengenal alat musik tradisional yang satu ini. Padahal, Sinrili memiliki nilai budaya yang sangat besar. Dahulu, sinrili merupakan kebanggaan seniman Sulawesi Selatan. (Sumber : bugiesmakassar.blogspot.co.id)

3. Angngaru

Angngaru adalah salah satu tarian kreasi Sulawesi Selatan. Dahulu budaya ini sangat sakral di kalangan para bangsawan (karaeng) karena menjadi tradisi lokal dalam upacara pernikahan dan di dalam penyambutan tamu penting di kalangan para Raja.

Tari kreasi ini berisi mengenai pesan moral, penjagaan terhadap bahaya,dan kesiagaan perlindungan yang terkandung di dalam gerakan tarian tersebut disertai ucapan lantang yang menarik urat-urat leher.

Tidak semua orang bisa membawakan tarian ini. Orang yang angngaru hanya bisa di hitung jari akan keberadaannya di setiap kelompok masyarakat Sulawesi Selatan.

Budaya angngaru biasa dikombinasikan dengan senjata khas Sulawesi Selatan yakni badik sebagai simbol penjagaan dan perlindungan.

Di era mienial, budaya ini juga sudah jarang dipelajari dan ditampilkan oleh generasi muda di Sulawesi Selatan. (Sumber : dani-virgound.blogspot.co.id)

Itulah beberapa budaya asli suku Bugis-Makassar yang seharusnya tetap dijaga dan dilestarikan di zaman kekinian karena budaya-budaya tersebut merupakan identitas dan jati diri masyarakat Sulawesi Selatan serta warisan nenek moyang kita yang tak ternilai. Jaga dan lestarikan !

Baca Juga :  Key Of Simbol Orang Makassar Adalah Siri&#8217

 

Loading...

News Feed