Ini Inovasi BMKG Untuk Mendukung Keselamatan Transportasi Udara dan Laut

Semua jenis kapal yang termonitor juga akan terpantau score risk-nya terhadap spesifikasi kapal yang dapat menyatakan persentase tingkat risikonya terhadap kondisi cuaca di lautan. Selain dalam sektor transportasi laut, wilayah pesisir dan laut Indonesia juga rentan terhadap ancaman pencemaran laut atau marine debris dan tumpahan minyak atau oil spill yang kerap terjadi di beberapa wilayah perairan Indonesia.

Fenomena tersebut tentunya berdampak buruk pada lingkungan ekosistem, habitat dan biota laut serta penurunan kualitas lingkungan laut. Oleh karenanya, BMKG juga telah mengembangkan sistem layanan informasi Passive Particle Tracking atau yang lebih dikenal dengan sistem informasi trajektori laut atau INA-DRIFT.

Produk INA-DRIFT dapat dimanfaatkan untuk menunjang operasi kegiatan penanggulangan bencana lingkungan, seperti marine debris, tumpahan minyak, dan aktivitas Search and Rescue (SAR) yang lebih akurat. Akses informasi juga ditujukan bagi seluruh pengguna agar dapat memanfaatkan informasi trajektori dengan mudah dan cepat melalui pembangunan interface Ina-Drift disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

BMKG juga berupaya mengimplementasikan otomatisasi dan modernisasi layanan dengan membangun sistem berbasis web yang memudahkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG (Stasiun Meteorologi Maritim yang tersebar di beberapa provinsi Indonesia) untuk mengirimkan laporan kegiatan operasional dalam format yang baku, dapat diakses dengan mudah, serta efektif dan efisien, yang dikenal dengan sebutan Sistem Monitoring Operasional Meteorologi Maritim atau INA-OPSMAR.

baca juga : BMKG : Evakuasi ke Tempat Aman, Bukan Eksodus

Sistem pelaporan secara elektronik (e-reporting) ini memungkinkan monitoring pelaporan yang lebih cepat, efektif, dan efisien. Selain sebagai sarana untuk monitoring kegiatan operasional, Ina-OPSMAR juga terintegrasi dengan sistem jaringan Automatic Weather System (AWS) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sistem ini juga menyediakan fasilitas bagi UPT BMKG untuk melakukan verifikasi bulanan terhadap produk prakiraan cuaca harian yang dikeluarkannya, serta memantau ketepatan waktu pengiriman produk informasi tersebut.

“Inovasi ini benar-benar kita butuhkan agar kita lebih tangguh dalam menghadapi perubahan iklim dan cuaca yang cepat. Jangan berhenti disini, kita tetap harus berinovasi,” tambah Dwikorita.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto menambahkan, inovasi tersebut merupakan kolaborasi stakeholder dan merupakan karya anak bangsa.

“Sistem ini terbangun karena memang atas kebutuhan stakehoder dan sudah dilakukan semacam uji coba dalam beberapa bulan yang lalu,” kata Guswanto.

Ke empat inovasi tersebut merupakan suatu terobosan besar atas jawaban tantangan ke depan di bidang penerbangan dan maritim untuk mendukung program-program pemerintah dan global. (*)