JK Dorong MUI Kembangkan Ekonomi Umat Islam

Dalam hal kebangkitan berwirausaha, JK mengatakan, umat Islam dapat belajar banyak dari warga keturunan Tionghoa. Sebab mereka selalu menanamkan semangat berusaha dan mengembangkan jiwa wirausaha kepada anak-anaknya. “Orang cina bisa lebih maju, karena mereka mempunyai deret ukur. Satu keluarga punya lima anak, seorang bapak belikan masing-masing satu toko. Jadi lima toko. Jadi pengusahanya bertambah jadi lima,” katanya lagi

“Berbeda dengan kita, kadang-kadang satu keluarga, anak-anaknya ingin jadi polisi, tentara, bupati. Jadinya jumlah pengusaha kita tambah sedikit,” imbuh JK.

Lalu apa yang sebaiknya di lakukan? JK mengusulkan pentingnya MUI untuk mendorong agar dakwah-dakwah menyinggung soal muamalah. Tidak semata-mata berisi tentang aqidah, akhlak dan lainnya. Dakwah tentang muamalah juga bisa dikaitkan dengan pentingnya mendorong semangat untuk berwirausaha.

Untuk kondisi saat ini, JK tidak menyalahkan para pengusaha non pribumi yang sudah besar. Apalagi para pengusaha besar tersebut meningkatkan pendapatan oajak negara serta membuka lapangan kerja. Namun, kata JK, yang harus didorong adalah bagaimana membangkitkan wirausaha kecil menjadi besar. “Tidak ada jalan lain kita harus mendorong pengusaha dari bawah,” kata JK.

baca juga : Presiden Tegaskan Komitmen Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Syariah di 2024

Ia juga meminta MUI agar tidak membentuk kesan bahwa ekonomi itu eksklusif. Melainkan harus terbuka atau inklusif. JK menuturkan, dagang dengan dasar agama itu sulit sebab harus bekerja sama dengan banyak orang. Jika mencoba eksklusif maka perekonomian Umat akan makin mundur. Termasuk jika membuat industri-industri yang mengarah pada halal.

Terkait dengan keterbukaan, JK mencontohkan saat melakukan umrah di masa pandemi beberapa waktu lalu. Ia mengungkapkan, di salah satu supermarket terbesar di Arab Saudi, barang-barang yang dijual 90 persen adalah buatan Cina. “Itu artinya, perdagangan itu tidak pilih-pilih agama. Jika pilih-pilih agama, mestinya Arab Saudi mengutamakan produk Indonesia karena mayoritas umat Islam,”

“Jadi saat ini dagang itu kuncinya bersaing pada tiga, yakni lebih baik, lebih cepat, lebih murah. Karena Cina bisa melakukan itu, maka ekonomi kita tidak bisa melawannya. Jadi kunci utamanya yang harus kita dorong adalah kerja keras,” imbuhnya.