Kebijakan ‘Blunder’ Bahlil dan Pertaruhan Masa Depan Pertamina

Masalah kian kompleks ketika muncul fakta adanya kebijakan pencampuran etanol dalam BBM. Secara konseptual, kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dan mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan.

Akan tetapi, dalam praktiknya, kebijakan ini belum siap sepenuhnya. Apa yang terjadi di lapangan adalah kualitas bahan baku etanol yang belum bisa dikatakan sangat bagus, termasuk rantai pasokan yang belum stabil, serta kesiapan infrastruktur pendukung lainnya yang masih mentah.

Alhasil, kebijakan yang kurang perhitungan ini menimbulkan ragam keluhan dari masyarakat mengenai kualitas bahan bakar yang menurun serta gangguan pada performa mesin kendaraan.

Akhirnya, kebijakan yang semestinya menjadi solusi justru menggandakan persoalan baru. Dalam dunia tata kelola publik, langkah yang tidak disertai kalkulasi matang sering kali berujung pada blunder kebijakan, dan inilah yang terlihat sekarang.

*Optimisme Kepemimpinan Simon Aloysius*

Di tengah sorotan tajam yang datang dari berbagai penjur imbas dari kebijakan BBM yang kurang matang, muncul sinar harapan dari sosok pemimpin Pertamina saat ini.

Beliau adalah Direktur Utama Pertamina yang baru, Simon Aloysius, sosok yang terkenal disiplin, tegas dan visioner.

Berbeda dengan pendekatan birokratis yang kerap berbelit sehingga menghambat dinamika industri energi nasional, Simon dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang lugas, terbuka, fleksibel dan solutif.

Sejak awal penulis mengikuti jejak kepemimpinan beliau yang tidak jarang ditemui pada orang lain. Beliau adalah sosok yang memahami betul bahwa tantangan di sektor energi hari ini bukan tentang produksi dan distribusi, tetapi soal tata kelola, transparansi, dan efisiensi.

Itu terlihat di mana di bawah kepemimpinannya, Pertamina mengalami transformasi menjadi perusahaan energi yang adaptif dan inovatif.

Pertamina di tangannya tidak hanya berperan sebagai penyedia BBM nasional, melainkan merangkak lebih jauh sebagai motor penggerak transisi energi menuju masa depan energi hijau.

Simon juga lebih terbuka dalam mendorong sinergi antara BUMN dan swasta. Karena beliau menganggap sektor swasta bukan kompetitor, melainkan mitra strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Pendekatan kolaboratif inilah yang menjadi karakter kepemimpinan visioner Simon dalam memajukan energi nasional melalui bendera Pertamina.

Beberapa kebijakan yang saat ini beliau ambil mulai dari upaya penguatan kilang domestik, efisiensi rantai pasok, serta percepatan digitalisasi sistem distribusi Pertamina agar rantai pelayanan menjadi lebih transparan dan efisien adalah sejumlah langkah strategis yang layak diapresiasi.

Baca Juga : Pertamina Patra Niaga Tambah Pasokan BBM Saat Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia di Mandalika

Untuk itu, optimisme di tengah runyamnya masalah yang kini tengah mendera perusahaan energi plat merah ini akibat kebijakan Menteri yang kurang memahami situasi lapangan, semoga segera diatasi oleh beliau.

Banyak yang melihat gaya kepemimpinannya membawa harapan besar dalam memecah kebuntuan yang ada saat ini.

Di tangannya, Pertamina diharapkan tidak lagi hanya menjadi raksasa energi yang siap merebut perubahan, tapi juga menjadi ujung tombak bagi ketahanan energi dan industri dalam negeri.

Di sinilah sinar harapan akan sosok Simon Aloysius kembali dipercayakan. Publik berharap di tangan beliau lahir arah baru kebijakan yang tidak hanya mengeluarkan Pertamina dari kemelut yang ada, tapi juga solusi bagi kestabilan energi nasional kini dan akan datang.

Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Media Online (IMO) Indonesia