Hal tersebut juga sejalan dengan prioritas diplomasi Indonesia di tahun 2021 antara lain membangun kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional atau National Health Security, dengan fokus yakni penguatan kerja sama membangun industri kesehatan nasional, industri bahan baku obat, farmasi, maupun alat kesehatan; dan penguatan kerja sama pengembangan riset dan transfer teknologi dan SDM di bidang kesehatan.
Selain itu, Presiden Pardis Technology Park, Mr. Mahdi Saffari Nia, secara lugas menyampaikan kesiapan Iran untuk meningkatkan kerja sama investasi perusahaan berbasis ilmu pengetahuan Iran di Indonesia. Pardis Technology Park berada di bawah koordinasi dari kantor Wapres Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Iran, yang telah menginkubasi 100 perusahaan berbasis pengetahuan.
baca juga : KBRI Kuala Lumpur Bersama AOMI Fasilitasi Pemulangan 166 Pekerja Migran Indonesia
Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) tahun 2018 menyatakan bahwa prevalensi pasien penyakit ginjal kronik (PGK) meningkat menjadi 0,38 persen. Jumlah ini meingkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 2013 yang hanya 0,2 persen. Data Indonesian Renal Registry (IRR, 2018) memperkirakan angka kejadian gagal ginjal yang memerlukan dialisis adalah sekitar 499 per juta penduduk. Hipertensi merupakan penyebab paling sering dari gagal ginjal kronik, kira–kira 60%. Faktor–faktor lain yang diduga berhubungan dengan meningkatnya kejadian gagal ginjal kronik antara lain diabetes mellitus, merokok, dan usia.

