Mengembalikan Marwah Pembinaan ke Sekolah dan Kampus

KORANMAKASSAR.COM — ​Langkah Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir, yang memutuskan untuk mengembalikan pengelolaan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) dan Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) ke pangkuan kementerian pendidikan adalah sebuah keputusan besar yang sangat tepat.

Sebagai praktisi di dunia olahraga dan jurnalis, saya melihat ini bukan sekadar perpindahan administrasi, melainkan langkah strategis untuk mengakhiri era tumpang tindih program pembinaan atlet nasional.

​Menghilangkan Sekat Birokrasi
​Selama ini, pembinaan atlet pelajar seringkali terjepit di antara dua kepentingan. Dengan diserahkannya Popnas ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Pomnas ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, jalur pembinaan menjadi linear.

​Atlet adalah siswa, dan siswa adalah tanggung jawab lembaga pendidikan. Dengan begini, sinkronisasi antara kurikulum pendidikan dan jadwal kompetisi bisa berjalan beriringan tanpa mengorbankan salah satunya.

Kolaborasi Lintas Sektoral yang Masif
​Saya sangat mengapresiasi visi Menpora yang tidak ingin “bekerja sendiri”. Pelibatan institusi seperti TNI dan Polri dalam menjaring talenta adalah terobosan luar biasa.

Kita tahu banyak atlet berbakat lahir dari rahim kedinasan atau daerah terpencil yang seringkali luput dari pantauan radar konvensional.

​Dengan menggandeng berbagai pihak, kita sedang membangun “jaring raksasa” untuk memastikan tidak ada satu pun mutiara olahraga di daerah yang tercecer.

Fokus Kemenpora: High Performance dan Standarisasi

​Lantas, apa peran Kemenpora ke depan? Justru tugas Kemenpora menjadi lebih tajam. Dengan dilepaskannya teknis Popnas dan Pomnas, Kemenpora bisa lebih fokus pada:

​Penyusunan standar Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).

​Pengawasan performa tinggi (high performance training).

​Penyiapan atlet menuju kancah internasional (ASEAN Games, Asian Games, hingga Olimpiade).

Harapan untuk Masa Depan

​Sistem yang lebih terstruktur dan kolaboratif ini adalah fondasi yang kita butuhkan. Di Kalimantan Timur, kami di KONI sangat merasakan betapa pentingnya kesinambungan atlet dari jenjang sekolah ke prestasi senior.

​Jika akarnya (Popnas/Pomnas) sudah dikelola oleh institusi yang memang membawahi massa pelajar, maka kami di daerah akan lebih mudah melakukan koordinasi teknis.

Ini adalah perubahan besar yang harus didukung penuh oleh seluruh stakeholder olahraga di Indonesia.

​Mari kita kawal transformasi ini demi satu tujuan: Melihat Merah Putih berkibar lebih tinggi di panggung dunia. (rd)

penulis : Rusdiansyah Aras (Jurnalis & Ketua KONI Kaltim)

Komentar