Budi Tanaka, eksportir magot menyampaikan bahwa usaha yang dibangun sebelumnya di Bogor, Jawa barat ini kini mengembangkan usahanya di Riau karena bahan baku berupa produk samping sawit tersedia berlimpah. Sehingga ia dapat mengembangbiakan magot dengan skala yang lebih besar.
“Kebijakan dan aturan pemerintah daerah juga mendukung. Untuk akses pasar juga dibantu pihak karantina pertanian, khususnya jika ada hambatan protokol ekspornya,“ kata Budi.
Selain melepas ekspor ragam komoditas baru, Menteri Pertanian juga melepas 11 komoditas pertanian asal Riau lainnya. Masing-masing adalah kelapa dan turunannya, keladi, produk olahan nanas dan lainnya dengan total volume 117.288 ton senilai Ro, 716 miliar.
baca juga : Kementan Lepas Ekspor Benih Jagung Hibrida ke Thailand
Adapun negara tujuan ekspor berjumlah 18 yakni selain Inggris adalah Amerika Serikat, Turki, Cina, Korea Selatan, Estonia, Malaysia dan lainnya. Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil yang turut hadir mendampingi Menteri Pertanian menambahkan bahwa ekspor kali ini dilakukan melalui beberapa lokasi di wilayah kerja Karantina Pertanian Pekanbaru.
“Provinsi Riau dengan potensi pertanian yang besar telah dikelola dengan baik oleh Pemerintah Daerah, petani juga pelaku usaha. Berbagai program dan gerakan yang digagas mampu memberikan dorongan yang positif baik petani, pelaku usaha bahkan masyarakat Riau,” kata Jamil.
Salah satu potensi ekspor yang besar dengan nilai jual yang cukup tinggi adalah komoditas Sarang Burung Walet. Berdasarkan catatan sertifikasi ekspor karantina, selama masa pandemi dapat mencapai 119,71 ton.
.”SBW dipercaya oleh pembeli di luar negeri, khususnya Cina sebagai penambah imunitas tubuh dan eksportir asal Riau berhasil menangkap peluang momentum pandemi ini,” tutup Jamil. (*)

