“Republik Fufufafa” Bukan Karya Perlawanan, Ketua IMDI Sulsel: Slank Telah Menjinakkan Kritik dan Mengkhianati Sejarahnya Sendiri

MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Dewan Pimpinan Daerah Insan Muda Demokrat Indonesia (DPD IMDI) Sulawesi Selatan menyatakan sikap keras dan terbuka terhadap album terbaru Slank bertajuk Republik Fufufafa.

Album ini dinilai gagal total sebagai karya kritik sosial-politik dan justru memperlihatkan kemunduran sikap, ketidaktulusan, serta ketakutan berhadapan dengan kekuasaan.

Ketua DPD IMDI Sulsel, Zulkifli Thahir, yang juga merupakan Slankers fanatik, menegaskan bahwa album ini tidak layak disebut sebagai karya perlawanan.

“Ini bukan album kritik. Ini adalah kritik yang sudah dijinakkan. Judulnya galak, isinya penakut. Slank hari ini terdengar seperti band besar yang takut pada bayang-bayang kekuasaan,” tegas Zulkifli Thahir.

Ket. Foto : Ketua DPD IMDI Sulsel, Zulkifli Thahir bersama Vocalist Slank, Kaka. Doc. Thn 1999

Menurut IMDI Sulsel, Republik Fufufafa lebih pantas dibaca sebagai produk kompromi politik dan industri, bukan sebagai ekspresi kegelisahan rakyat. Kritik yang disajikan dianggap kabur, normatif, dan sengaja menghindari sasaran, sehingga kehilangan daya guncang.

“Slank dulu memukul langsung ke jantung masalah. Sekarang hanya berani menyentil udara. Ini bukan evolusi, ini degradasi keberanian,” lanjut Zulkifli.

Sebagai organisasi sayap Partai Demokrat, IMDI Sulsel memandang seni dan musik memiliki tanggung jawab historis dalam menjaga demokrasi dan kebebasan berekspresi. Ketika musisi besar memilih aman, maka ruang kritik publik ikut melemah.

“Musik politik tanpa risiko adalah kemunafikan artistik. Jika takut kehilangan panggung, jangan mengklaim diri sebagai suara rakyat,” tegasnya.

IMDI Sulsel secara terbuka menyatakan bahwa album ini mengkhianati sejarah Slank sendiri—sejarah yang dibangun oleh keberanian melawan ketidakadilan, bukan oleh simbol kosong dan satire tanpa arah.

baca juga : Ketua DPD IMDI Sulsel Apresiasi Ketegasan Ketum DPP KNPI Ryano Pandjaitan Jaga Marwah Organisasi

“Sebagai Slankers, ini kekecewaan yang serius. Sebagai kader organisasi politik, ini alarm bahaya. Ketika ikon budaya berhenti jujur, publik yang dirugikan,” ujar Zulkifli.

DPD IMDI Sulsel menilai Republik Fufufafa mencerminkan krisis sikap di kalangan figur publik: berisik dalam simbol, sunyi dalam posisi. Kondisi ini berbahaya di tengah situasi demokrasi yang membutuhkan suara keras, tegas, dan tidak ambigu.

“Slank tidak sedang dikritik karena berbeda pandangan, tapi karena berhenti berani. Dan bagi kami, kehilangan keberanian adalah bentuk kegagalan paling mendasar,” pungkas Zulkifli Thahir.

IMDI Sulsel menegaskan bahwa pernyataan ini bukan serangan personal, melainkan peringatan terbuka: sejarah tidak mencatat musisi yang aman, tetapi mereka yang berani. (*)