Siapa Dungu Siapa Berakal Sehat

Rocky. cuma nyengar-nyengir. Meletakkan mike, tak lagi berminat melanjutkan diskusi.

Diskusi, di ruang tertutup, ditutup. Saatnya menikmati racikan “kopi kuno” Red Corner Cafe, Makassar. Suasana cair, bahkan liar.

Cara kelakar, saya katakan pada Rocky, “tadi, Anda tak minat melanjutkan diskusi. Rupanya, Anda makfum alur logika saya, matematis. Mempertandingkan lewat survey. Siapa dungu vs siapa berakal sehat”.

“Nah, itu dia!”, jelas Rocky.

“Saya hanya coba bermain-main lewat logika matematis. Agar Anda tau duduk soalnya”, kata saya. “Soal apa?”, sanggah Rocky. “Soal pola komunikasi para orang-orang berakal sehat pada publik di lapisan bawah”. Rocky menatap muka saya. “Diskursus, bahkan kritikan Anda menyebut Jokowi dungu, tak mampu mereka cerna”, lanjut saya.

“Buktinya?”, tantang Rocky. “Itu tadi, hasil survey. Kepuasan publik atas kinerja Jokowi, tetap saja tinggi”, pungkas saya.

Suvey membuktikan, jika Rocky, para kaum terdidik, para pengkritik yang tak puas kinerja Jokowi, gagal total berkomunikasi dengan publik.

Telah berbusa-busa, sekalipun itu, mulut mereka berdalil. Mengungkap banyak kebijakan Jokowi yang keliru. Mengalih subsidi APBN untuk mobil listrik, misalnya. Berpihak dan hanya menguntungkan produsen serta konsumen pemilik uang.

Kritikan itu, boleh jadi ada benarnya. Hanya saja — sekali lagi survei membuktikan — rakyat kebanyakan tak tau dampak risiko ditanggung rakyat banyak atas kebijakan itu. Wajar, rakyat tak hendak ambil pusing. “Toh, itu bukan urusan kami”.

Oleh karena itu, kata saya pada Rocky. Pola komunikasi Anda, waktunya dibalik. “Petani kenapa Anda meringis? Pupuk yang Anda perlukan, langka. Pun jika ada, harga belinya mahal. Sebabnya kenapa? Itu tadi, dampak risiko dari kebijakan Jokowi. Dana APBN yang semula diperuntukkan subsidi pupuk, dikurangi lalu dialihkan untuk subsidi mobil-motor listrik”.