Tapi jangan lupa, ujar saya, pak Azmen harus ikut dalam kepemimpinan mereka, Mahathir-Anwar. Jangan kita melawannya. Mengapa? Jika kita belum kuat melawannya, kita sebaiknya bergabung, mencari kepentingan bersama.
-000-
Apa yang saya sarankan tentu juga menjadi gagasan banyak orang lain. Keajaibanpun terjadi.
Dua musuh besar bersatu kembali untuk tujuan yang lebih besar. Anwar dari dalam penjara bersepakat dengan Mahathir dalam formula yang cantik.
Mahathir yang pimpin oposisi karena Anwar berada dalam penjara. Namun jika Mahathir berkuasa, Mahathir akan mengeluarkan Anwar dari penjara, dan menjadikan Anwar penguasa berikutnya.
Inilah negosiasi tingkat tinggi dalam politik. Tak ada musuh atau teman yang abadi. Kepentingan yang lebih besar itu yang abadi.
Untuk menyatukan oposisi, Malaysia memanggil kembali politisi yang sudah berusia 92 tahun. Ia pun disatukan kembali dengan musuh besar yang ia penjarakan ketika ia berkuasa.
Jadilah Mahathir terpilih sebagai perdana mentri paling tua, atau bahkan pemimpin politik paling tua, dalam sejarah.
Banyak hal tak terduga dalam politik bisa terjadi. Karena itu jangan ragu untuk bermimpi sejauh masih sesuai dengan hukum besi politik.
-000-
KMahathir menjadi Perdana Menteri tahun 2018. Tapi ketika Mahathir mengundurkan diri di tahun 2020, penggantinya bukan Anwar Ibrahim. Sebagian pendukung Anwar Ibrahim merasa tokohnya kembali dikhianati. (1)
Namun api di hati Anwar Ibrahim itu terus menyala. Dua tahun kemudian, Anwar Ibrahim akhirnya menjadi Perdana Menteri Malaysia di tahun 2022, setelah kembali koalisi partai yang dipimpinnya memenangkan pemilu.
Sebanyak 20 kisah Anwar Ibrahim, juga kisah soal istrinya, Wan Azizah, dituliskan dalam puisi esai di buku ini.
Datuk Jasni Matlani yang kini menjadi Presiden Puisi Esai ASEAN, menangkap kisah Anwar Ibrahim dari perspektif yang berbeda: “Tak Ada Sesiapa Yang Boleh Mengubah Takdir.”
Saya kutip agak panjang puisi esai Datuk Jasni
“Sehingga suatu hari, dia bercerita kepadaku kisah Oedipus Sang Raja karya Sphocles yang terkenal pada zaman Yunani Purba itu.
Suatu hari, kata ayah, raja Thebes dinasihatkan oleh ahli nujum negara agar membuang anaknya, Oedipus ke dalam hutan gelap kerana diramalkan anak itu nanti akan membunuh ayahnya sendiri.
Disebabkan sang raja takut dengan malapetaka yang bakal dibawa anak lelakinya itu, maka sang raja pun memerintahkan anaknya yang baharu lahir itu dibuang ke dalam hutan gelap.
Sehingga anak yang diberikan nama Oedipus itu ditemui oleh seorang pengembala dan menyerahkannya
kepada raja Corinthia yang memelihara Oedipus seperti anak darah dagingnya sendiri.
Setelah dewasa seorang ahli nujum lain pula memberitahu Oedipus bahwa suatu hari Oedipus akan membunuh ayahnya dan mengahwini ibunya
Lalu kerana takut dia membunuh raja Corinthia yang disangka sebagai ayah kandungnya maka dia meninggalkan negeri Corinthia lalu berkelana ke Thebes tanpa mengetahui bahawa Thebes itulah negeri asal kelahirannya.
Tidak lama kemudian berlakulah peristiwa di mana Oedipus akhirnya membunuh raja Thebes, yaitu ayah kandungnya sendiri, dan mengawini ibunya yang sebenar.
Kata ayahku, dalam nada suara yang sedih sesungguhnya manusia itu tidak boleh mengubah takdir dengan kuasa yang ada.
Pucuk pimpinan negara yang tercinta ini boleh melemparkannya ke dalam hutan gelap mengikat dan menyeksanye penuh derita.
Tetapi suatu hari dia akan kembali mendapatkan apa yang sepatutnya menjadi haknya selama ini.
Percayalah anakku ketika itu tidak ada sesiapa pun yang mampu mengubah kenyataan atau menafikan hak yang telah ditentukan sesuai takdir.

