TP PKK Makassar Ajak Pelajar Jadi Agen Perubahan Lewat Edukasi Pengelolaan Sampah

MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM – TP PKK Kota Makassar terus mendorong kesadaran lingkungan di kalangan pelajar melalui program Goes to School bertema edukasi pengelolaan sampah.

Pada hari kedua pelaksanaan, Selasa (12/5/2026), kegiatan digelar di SMP Negeri 46 Makassar dan SMP Negeri 29 Makassar.

Program yang merupakan bagian dari kegiatan Pokja IV TP PKK Makassar ini mengedukasi siswa mengenai pentingnya memilah dan mengelola sampah sejak dini, mulai dari pengenalan jenis sampah hingga praktik pengolahan sampah organik menggunakan maggot, komposter, biopori, dan metode teba.

Baca Juga : TP PKK Makassar Goes to School, Melinda Aksa Ajak Siswa Jadi Pelopor Pengelolaan Sampah

Ketua Pokja IV TP PKK Kota Makassar, Indira Purnamasari, mengatakan edukasi tersebut bertujuan membangun kesadaran pelajar bahwa sampah tidak hanya untuk dibuang, tetapi juga dapat dimanfaatkan kembali jika dikelola dengan benar.

Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi TP PKK Kota Makassar bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar dan sejumlah pegiat lingkungan.

Materi edukasi disampaikan oleh Nanda dari DLH Makassar serta Fajar Harianto, Lurah Kelurahan Baru yang aktif dalam pengelolaan lingkungan melalui komunitas Muliata.

Dalam pemaparannya, Nanda menjelaskan perbedaan sampah organik, anorganik, B3, dan residu, sekaligus mengajak siswa menerapkan konsep 3R (reduce, reuse, recycle) dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Fajar Harianto memperkenalkan berbagai metode pengolahan sampah organik seperti budidaya maggot, komposter, lubang biopori, hingga metode teba yang dapat diterapkan di sekolah maupun rumah.

Baca Juga : PKK Makassar Dorong Ketahanan Pangan lewat Kebun Aku Hatinya

Ia juga mendorong sekolah membuat teba sebagai media sederhana pengolahan sampah organik agar dapat diubah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman di lingkungan sekolah.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para siswa yang aktif bertanya mengenai cara memilah sampah, manfaat biopori, hingga proses pengolahan maggot.

Indira berharap edukasi seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar lahir generasi muda yang peduli lingkungan dan mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. (*)

Komentar