Bachtiar Baso
Sekretaris Umum
Lembaga Pengkajan & Pengembangan Masyarakat Sipil (LP2MS)
Sulawesi Selatan
KORANMAKASSAR.COM — Memasuki pekan kedua di bulan april, kondisi kurang baik harus diterima masyarakat di Sulawesi Selatan khususnya yang berada di Kota Makassar. Data terakhir (Data Covid19. Sulselprov.go.id 12 april 2020) menujukkan jumlah pasien di Kota Makassar berstatus ODP berjumlah 446 orang, PDP 163 orang dan positif 154 Orang. Langkah-langkah pencegahan terus dilakukan oleh pemerintah salah satunya dengan penerapan Social Distancing, Physikal distancing, larangan berkegiatan, larangan mudik/keluar kota sampai anjuran wajib menggunakan masker kepada masyarakat. Upaya ini bukan tanpa kendala, apa yang telah menjadi himbau dan petunjuk dari pemerintah tidak serta merta dikuti dan dipatuhi oleh masyarakat yang masih dominan memilih tetap beraktifitas sesuai persepsi masing-masing.
Kekecewaan memunculkan distrust di masyarakat dalam kondisi saat ini trust sangatlah dibutuhkan dalam proses penjabaran dan pelaksanaan atas himbauan dan anjuran yang dikeluarkan oleh pemerintah kepada masyarakat. Untuk dapat trust, seseorang akan mengharapkan adanya sense of responsibility, kepercayaan bahwa mereka akan berperilaku pada cara-cara yang dapat dipercaya. Membangun trust diawali dengan menghargai dan menerima kepercayaan tersebut, membangun trust berarti memikirkan suatu kepercayaan dalam cara yang positif, membangun langkah demi langkah, komitmen demi kmitmen.
Falcone & Castelfranci mengatakan bahwa trust merupakan suatu kemungkinan yang subjektif dari seorang individu, yang mengharapkan individu lain untuk menunjukkan suatu tindakan tertentu, segala kemungkinan yang terjadi tergantung pada bagaimana perilaku yang ditunjukkan orang yang kita percayai tersebut kepada kita, tentang bagaimana mereka dapat memenuhi perilaku yang kita harapkan. Kepercayaan seseorang pada orang lain akan bergantung pada bagaimana orang lain tersebut berperilaku dan sebaliknya. Oleh karena itu, hal yang paling penting dari trust adalah keterbukaan.
Persepsi yang dianggap tidak sesuai dengan yang sebenarnya akan melahirkan distrust. Munculnya distrust atau ketidakpercayaan dapat terjadi disebabkan berbagai faktor, yang paling sering karena adanya penghianatan atau pelanggaran terhadap komitmen yang berakhir pada kekecewaan. Dalam periode distrust beberapa orang ada yang tidak dapat melupakan dan juga tidak dapat memaafkan, tetapi tidak sedikit pula mereka tetap berubah dan belajar untuk trust kembali kepada orang lain.
Dalam penanganan penyebaran wabah virus covid-19 ini, pemerintah harus benar-benar hadir di masyarakat memunculkan rasa percaya di masyarakat, para pemangku kepentingan di bangsa ini harus menjadi panutan dan tauladan dalam implementasi beberapa himbauan dan regulasi lainnya yang telah menjadi ketetapan. Disamping itu, masyarakat harus patuh dan taat kepada apa yang telah menjadi anjuran dan kebijakan pemerintah, menghilangkan rasa kekecewaan atau ketidakpecayaan kepada pemerintah. ketidakpercayaan akan melemahkan keterlibatan masyarakat (civic enggagement) dalam pelaksanan kebijakan-kebijakan yang ada.
Menguatkan Civic Enggagement
Lemahnya implementasi social distancing, physical distancing dan beberapa kebijakan lainnya bersumber dari lemahnya keterlibatan (civic engagement) masyarakat dengan pemerintah selama ini. Kondisi ini akan berdampak pada hadirnya ketidakpercayaan publik. Ketidakpercayaan publik bisa terjadi karena adanya rasa tidak adil dan tidak puas yang dirasakan masyarakat atas pemerintah. anggapan ketidakkeseriusan pemerintah dalam penanganan penyebaran wabah ini, ketidakseriusan pemerintah dalam penyebaran informasi terkait Covid-19 yang berdampak munculnya kebingunan di masyarakat, kordinasi antar lembaga pemerintah terkesan lemah dan tumpang tindih khususnya antara pemerintah pusat dan daerah, polemik bantuan sosial dan kartu pra kerja, beberapa pejabat publik justru tidak menjadi teladan di beberapa situasi, misalnya ditengah larangan melaksanakan kegiatan diruang publik beberapa oknum pejabat justru tetap melaksanakannya.
Kondisi ini adalah sebagian keadaan yang melahirkan ketidakpercayaan publik atas kebijakan yang ada. Kita semua tentu tidak berharap kondisi ini terus bertahan, masyarakat harus ikut serta berperan aktif bersama pemerintah dalam penanganan penyebaran wabah ini.
Pelibatan masyarakat harus dikuatkan. Dengan menghadirkan pemerintah ditengah masyarakat, mendorong keterbukaan terhadap seluruh kebijakan yang telah diambil, peran aktif pemerintah baik pusat maupun daerah dalam berkoordinasi dan mengimplementasikan program yang ada, mendorong pelibatan aktif seluruh lapisan masyarakat mulai dari perangkat pemerintahan di masing-masing tingkatan, tokoh agam, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan semua pihak yang ada, transparansi pelaksanaan program bantuan sosial akan memunculkan rasa kepercayaan yang akan mendorong rasa simpati yang berdampak pada partisipasi aktif masyarakat untuk turut serta terlibat bersama pemerintah melawan Covid-19.
Seluruh lapisan masyarakat harus benar-benar sadar bahwa apa yang terjadi saat ini adalah sebuah kejadian yang luar biasa yang akan sangat berdampak buruk terhadap kelangsungan hidup manusia bila tidak ditangani dengan baik, kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menjalankan dan mengimplemtasikan semua arahan, himbauan dan kebijakan pemerihtah adalah sebuah langkah maju yang akan menciptakan dampak positif terhadap kondisi yang ada. Dengan kesatuan yang kuat antara pemerintah dengan masyarakat yang didasari rasa saling percaya akan melahirkan Indonesia yang kuat, Indonesia yang mampu untuk melewati kondisi ini dan kembali menjadi Indonesia yang sehat. (*)

