Dakwah dan Fashion: Ketika Estetika Penampilan Menjadi Identitas Baru Dakwah Kontemporer

Dalam gambaran fenomena yang berkembang di lingkungan jamaahnya, Ustadz Kahlil Gibran merupakan salah satu pendakwah muda yang tengah memperoleh perhatian masyarakat, khususnya di kalangan ibu-ibu majelis taklim.

Daya tariknya tidak hanya dikaitkan dengan usia yang relatif muda dan gaya komunikasi dakwahnya, tetapi juga dengan karakteristik fashion yang menjadi bagian dari identitas penampilannya.

Penampilan Ustadz Kahlil Gibran memperlihatkan perpaduan antara busana muslim dan sentuhan fashion modern. Jubah yang dikenakannya memiliki desain kekinian, pilihan warna yang menarik, serta model yang memberikan kesan elegan.

Demikian pula penggunaan kopiah yang serasi dengan busananya dan sepatu yang melengkapi keseluruhan penampilan, sehingga menghadirkan citra seorang dai muda yang modis tanpa harus meninggalkan identitas keislamannya.

Dalam perspektif komunikasi nonverbal, keserasian antara jubah, kopiah, dan sepatu tersebut bukan hanya persoalan estetika berpakaian, melainkan juga dapat dipahami sebagai bentuk konstruksi identitas seorang komunikator dakwah.

Fenomena ini menjadi semakin menarik ketika penampilan tersebut dikaitkan dengan respons jamaah. Berdasarkan gambaran praktik dakwah yang menjadi perhatian dalam tulisan ini, Ustadz Kahlil Gibran disebut banyak digemari jamaah, khususnya karena penampilannya yang dinilai menarik, modern, dan berbeda dari gambaran konvensional seorang pendakwah.

Bagi sebagian ibu-ibu majelis taklim, menghadirkan seorang dai muda yang memiliki penampilan menarik dapat memberikan suasana baru dalam kegiatan pengajian.

Ceramah keagamaan tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan agama, tetapi juga menghadirkan pengalaman komunikasi yang lebih segar, menyenangkan, dan sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ketertarikan jamaah terhadap seorang dai dapat dibentuk oleh perpaduan antara substansi ceramah, kemampuan komunikasi, kepribadian, dan estetika penampilan.

Dalam gambaran yang sama, jadwal ceramah Ustadz Kahlil Gibran disebut tergolong padat. Hal ini menarik untuk dikaji sebagai kemungkinan adanya hubungan antara daya tarik penampilan, penerimaan jamaah, dan meningkatnya permintaan untuk mengisi kegiatan dakwah.

baca juga : Jusuf Kalla Dorong Majelis Taklim Perempuan Jadi Penggerak Dakwah dan Kesejahteraan Umat

Namun, untuk memastikan seberapa besar kontribusi fashion terhadap kepadatan jadwal tersebut, tentu diperlukan data lapangan berupa wawancara jamaah, pengurus majelis taklim, serta dokumentasi kegiatan ceramah.

Terlepas dari kebutuhan pembuktian empiris tersebut, fenomena Ustadz Kahlil Gibran dapat dijadikan ilustrasi tentang bagaimana seorang dai dari generasi Z berusaha mempertemukan identitas keagamaan dengan budaya fashion modern.

Di sinilah terlihat bahwa dakwah dan fashion bukan lagi sekadar dua unsur yang berjalan berdampingan, melainkan dapat membentuk hubungan yang saling mendukung dalam membangun daya tarik, identitas, dan penerimaan seorang dai di tengah masyarakat.

Fenomena ini sekaligus memperlihatkan perubahan karakteristik sebagian jamaah yang tidak lagi hanya memperhatikan apa yang disampaikan oleh seorang dai, tetapi juga bagaimana dai tersebut menampilkan dirinya di hadapan publik.

Dari sudut pandang sosiologi agama, perubahan tersebut merupakan konsekuensi dari interaksi antara nilai-nilai keagamaan dan perkembangan budaya populer. Agama tidak hidup dalam ruang sosial yang kosong, melainkan senantiasa berinteraksi dengan perkembangan teknologi, gaya hidup, selera masyarakat, serta perubahan identitas generasi.

Karena itu, kehadiran dai Gen-Z dengan penampilan modern tidak semestinya langsung dipandang sebagai bentuk pengurangan nilai-nilai spiritual dakwah. Sebaliknya, fenomena tersebut dapat menjadi contoh bagaimana dakwah melakukan adaptasi kultural agar tetap memiliki relevansi dengan perkembangan masyarakat.

Akan tetapi, terdapat persoalan penting yang tidak boleh diabaikan. Ketika fashion semakin menonjol dalam aktivitas dakwah, muncul pertanyaan kritis mengenai batas antara estetika sebagai instrumen komunikasi dan estetika sebagai tujuan pencitraan.

Apakah seorang dai digemari karena keluasan ilmu dan kedalaman pesan keagamaannya, atau justru karena penampilannya yang menarik secara visual?

Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan ilmu agama dengan fashion. Justru, keduanya dapat berjalan secara harmonis apabila ditempatkan dalam proporsi yang tepat.

Fashion dapat menjadi pintu masuk untuk membangun ketertarikan jamaah, sedangkan kualitas keilmuan dan keteladanan akhlak menjadi fondasi yang mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap seorang dai.

Dalam konteks inilah seorang pendakwah dituntut memiliki kemampuan memahami kebutuhan jamaah secara menyeluruh. Jamaah tidak hanya membutuhkan ceramah yang benar secara normatif, tetapi juga penyampaian yang komunikatif, suasana yang menyenangkan, serta sosok dai yang mampu membangun kedekatan psikologis dengan mereka.

Seorang dai yang tampil modis tidak otomatis kehilangan nilai kesederhanaan. Sebaliknya, seorang dai yang berpakaian sederhana juga tidak otomatis lebih tinggi kualitas spiritualnya. Ukuran utama dakwah tetap terletak pada kualitas ilmu, keikhlasan, akhlak, dan dampak positif pesan keagamaan terhadap kehidupan jamaah.

Oleh sebab itu, perpaduan dakwah dan fashion harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi dakwah kontemporer yang mempertemukan estetika dengan etika, modernitas dengan spiritualitas, serta kreativitas penampilan dengan kedalaman substansi keagamaan.

Dalam masyarakat yang semakin dipengaruhi oleh budaya visual, kemampuan seorang dai membangun penampilan yang menarik dapat menjadi salah satu modal komunikasi.

Namun, penampilan tersebut harus tetap dikendalikan oleh kesadaran bahwa tujuan utama dakwah bukanlah membangun kekaguman terhadap pribadi pendakwah, melainkan mengantarkan jamaah kepada pemahaman dan pengamalan ajaran Islam.

Fenomena Ustadz Kahlil Gibran di Kota Makassar, sebagaimana digambarkan dalam tulisan ini, memberikan ruang refleksi bahwa generasi muda memiliki peluang besar untuk mengembangkan pendekatan dakwah yang lebih kreatif, komunikatif, dan sesuai dengan selera masyarakat kontemporer.

Dakwah tidak harus selalu hadir dengan wajah yang kaku dan penampilan yang monoton. Dakwah dapat tampil segar, modern, elegan, bahkan fashionable sepanjang tidak kehilangan nilai-nilai moral dan spiritual yang menjadi substansinya.

Pada akhirnya, perkembangan dakwah kontemporer mengajarkan bahwa seorang dai harus mampu memahami zaman tanpa harus kehilangan prinsip keagamaannya. Ia harus mampu membaca kebutuhan jamaah tanpa harus menjadikan selera jamaah sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan dakwah.

baca juga : Nahkoda Baru LIDMI, Muhammad Ikram Ajak Kader Perkuat Loyalitas dan Dakwah

Fashion dan dakwah kontemporer telah menemukan ruang perjumpaan yang semakin kuat. Keduanya dapat menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi: fashion memperindah cara dakwah ditampilkan, sedangkan nilai-nilai dakwah memberikan makna dan arah terhadap keindahan tersebut.

Seorang dai boleh mengenakan jubah yang mahal, sepatu yang elegan, dan kopiah yang modis. Ia boleh tampil berkelas, modern, dan menarik perhatian jamaah. Namun, jangan sampai kemewahan penampilannya lebih dikenal daripada keluasan ilmunya, dan jangan sampai keindahan busananya lebih dikagumi daripada kemuliaan akhlaknya.

Sebab, fashion mungkin menjadi alasan awal seorang jamaah tertarik menghadiri pengajian, tetapi kualitas dakwahlah yang menentukan apakah jamaah tersebut memperoleh pencerahan spiritual.

Dan barangkali, inilah wajah baru dakwah kontemporer yang sedang berkembang di tengah masyarakat kita: dakwah yang tidak lagi mempertentangkan kesalehan dengan keindahan, tidak memisahkan spiritualitas dari estetika, serta tidak menganggap modernitas sebagai ancaman terhadap nilai-nilai keislaman.

Dai masa kini bukan hanya dituntut pandai berbicara di atas mimbar, tetapi juga cerdas membaca selera jamaah. Sebab, dakwah yang baik bukan sekadar mampu menyentuh telinga melalui kata-kata, melainkan juga mampu menarik perhatian melalui penampilan dan akhirnya menyentuh hati melalui keteladanan.

Jubah boleh mengikuti perkembangan mode, tetapi pesan dakwah harus tetap berpegang pada tuntunan agama. Sepatu boleh terlihat mewah, tetapi langkah seorang dai harus tetap berpijak pada kerendahan hati. Kopiah boleh tampil modern, tetapi pikiran dan perilakunya harus tetap mencerminkan kemuliaan ajaran Islam.

Itulah esensi perpaduan dakwah dan fashion: indah dalam penampilan, mendalam dalam keilmuan, santun dalam penyampaian, dan mulia dalam keteladanan. (*)

Komentar