BANDUNG, KORANMAKASSAR.COM — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mendorong perguruan tinggi Indonesia meningkatkan daya saing global melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), inovasi, dan kepemimpinan berbasis neurosains (Neuroscience Leadership).
Pesan tersebut disampaikan Taruna saat memberikan kuliah umum di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, di hadapan ratusan guru besar, dosen, dan mahasiswa.
Ia menegaskan, perguruan tinggi harus menjadi pusat lahirnya inovator dan pemimpin masa depan, bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan. Di era keterbukaan informasi dan perkembangan AI, mahasiswa maupun dosen dituntut terus belajar, beradaptasi, dan meningkatkan kompetensi.
Melalui pendekatan Neuroscience Leadership, Taruna mengajak civitas akademika memahami potensi otak dalam proses belajar, berpikir, mengelola emosi, dan mengambil keputusan.
Baca Juga : Buka Puasa Bersama, Kepala BPOM RI Apresiasi Kiprah Wakil Wali Kota Makassar
Pendekatan ini diharapkan membantu mahasiswa mengenali minat dan bakat, sekaligus mendorong dosen menerapkan pembelajaran yang lebih kreatif dan efektif.
Menurutnya, cita-cita menjadi World Class University harus ditopang kualitas riset, inovasi, kolaborasi internasional, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Universitas kelas dunia bukan hanya ditentukan oleh gedung megah atau banyaknya gelar akademik, tetapi oleh kualitas pemikiran, kekuatan inovasi, hasil penelitian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat dunia,” tegasnya.
Perkuat Kolaborasi Kampus, Pemerintah, dan Dunia Usaha
Dalam kesempatan tersebut, Taruna juga menekankan pentingnya kolaborasi ABG (Academia, Business, Government) untuk memperkuat pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.
Ia mencontohkan dukungan BPOM terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Bersama Badan Gizi Nasional (BGN), BPOM memperkuat pengawasan keamanan dan mutu pangan, pengujian, pembinaan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar menyediakan makanan, tetapi memastikan makanan tersebut aman, bermutu, dan bergizi. Prinsip BPOM sangat jelas: bukan pangan jika tidak aman,” ujarnya.
Taruna turut mengajak perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian keamanan pangan, inovasi teknologi pengawasan, edukasi gizi, dan pengembangan sistem pengendalian risiko berbasis sains.
Ia berharap sinergi akademisi, pemerintah, dan dunia usaha mampu melahirkan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045.
“Masa depan bangsa membutuhkan manusia yang terus belajar, berani berinovasi, mampu berkolaborasi, dan siap menghadapi perubahan. Jika ingin menjadi pemain dunia, kita harus mulai membangun kualitas kelas dunia dari diri kita sendiri,” pungkas Taruna.
Dalam kunjungan tersebut, Kepala BPOM RI turut didampingi jajaran pejabat eselon I, II, dan III di lingkungan BPOM. (*)


Komentar