Kepala BPOM RI di Unpad: Indonesia Harus Jadi Pemimpin Inovasi Farmasi dan Pangan Dunia

BANDUNG, KORANMAKASSAR.COM — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menyerukan penguatan sains dan teknologi nasional agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi inovasi global, tetapi mampu tampil sebagai pencipta sekaligus pemimpin inovasi di tingkat dunia.

Pesan tersebut disampaikan Taruna Ikrar dalam rangkaian Dies Natalis Universitas Padjadjaran (Unpad) di Bandung, melalui forum ilmiah bertema “Advancing Pharma and Food Innovation for a Healthier and Sustainable Indonesia”, dengan perspektif “Global Challenges Need Broad-View Scientific Leadership.”, rabu (21/10/26).

Kegiatan ini diikuti ribuan peserta secara langsung maupun daring. Dalam kesempatan tersebut, Taruna Ikrar didampingi Staf Khusus Kepala BPOM RI Wachyudi Muchsin, serta sejumlah kepala balai dan pejabat di lingkungan BPOM.

Di hadapan sivitas akademika dan peserta forum, Taruna menegaskan bahwa tantangan kesehatan global tidak lagi dapat dihadapi dengan pola pikir sektoral. Ancaman penyakit baru, krisis pangan, perubahan iklim, disrupsi teknologi, hingga ketergantungan terhadap produk farmasi dari luar negeri menuntut kepemimpinan ilmiah yang visioner, kolaboratif, dan mampu membaca perubahan global.

Menjulang, Membumi, dan Mengakar

Taruna Ikrar menekankan pentingnya tiga fondasi dalam membangun kepemimpinan sains nasional, yakni menjulang, membumi, dan mengakar.

Menjulang berarti memiliki visi besar, menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, serta berani menempatkan Indonesia dalam persaingan inovasi global.

Membumi berarti memastikan kemajuan sains memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, mulai dari ketersediaan obat yang aman dan bermutu, pangan berkualitas, hingga peningkatan pelayanan kesehatan.

Baca Juga : Kepala BPOM RI Taruna Ikrar Dorong Unpar Menuju Kampus Kelas Dunia

Sementara mengakar menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, integritas, kearifan lokal, dan kepentingan nasional.

Filosofi tersebut menempatkan sains bukan hanya sebagai ukuran keunggulan akademik, tetapi juga sebagai instrumen perubahan sosial dan kekuatan strategis pembangunan bangsa.

Menurut perspektif ini, Indonesia harus mampu menghasilkan ilmu pengetahuan yang kompetitif di tingkat internasional sekaligus menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Indonesia Harus Beralih dari Konsumen Menjadi Produsen Inovasi

Taruna juga menyoroti pesatnya perkembangan industri kesehatan dunia yang didorong oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), bioteknologi, pengobatan presisi (precision medicine), serta terapi berbasis sel dan gen.

Perkembangan tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian industri farmasi. Namun, peluang itu harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas riset, penguasaan teknologi, kualitas sumber daya manusia, dan kemampuan industri nasional.

Indonesia, menurut pesan strategis yang disampaikan dalam forum tersebut, perlu bertransformasi dari pengguna teknologi menjadi bangsa yang mampu menciptakan, mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan hasil inovasinya sendiri.

Baca Juga : Buka Puasa Bersama, Kepala BPOM RI Apresiasi Kiprah Wakil Wali Kota Makassar

Tantangan serupa juga dihadapi sektor pangan. Keamanan pangan, ketahanan nasional, peningkatan kualitas gizi, dan dampak perubahan iklim membutuhkan solusi berbasis riset serta inovasi yang berkelanjutan.

Karena itu, pengembangan inovasi farmasi dan pangan harus menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional. Riset tidak boleh berhenti di laboratorium maupun publikasi ilmiah, tetapi perlu diarahkan agar menghasilkan produk dan teknologi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

BPOM Perkuat Regulasi Berbasis Sains

Sebagai Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar juga menempatkan regulasi berbasis sains sebagai elemen penting dalam membangun ekosistem inovasi nasional.

Menurut pendekatan tersebut, regulasi dan sistem pengawasan harus mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus mengantisipasi risiko yang menyertainya. Inovasi perlu difasilitasi secara bertanggung jawab, tanpa mengabaikan aspek keamanan, khasiat, dan mutu obat maupun keamanan pangan.

Peran BPOM menjadi strategis dalam menjaga keseimbangan antara percepatan inovasi, perlindungan masyarakat, dan peningkatan daya saing industri nasional.

Pada saat yang sama, perguruan tinggi diharapkan mampu memperkuat kontribusinya melalui penelitian yang aplikatif, pengembangan teknologi, dan penciptaan sumber daya manusia unggul.

Komentar