Denny JA: Karpet Merah untuk Prabowo-Gibran

Bagaimana dengan Gender dan Agama?

Dari sisi gender, baik dia laki-laki maupun perempuan, mayoritas setuju dengan koalisi partai semi permanen. Di laki-laki yang setuju sebesar 75%. Di perempuan yang setuju sebesar 76.5%.

Dari sisi pemeluk agama, ide koalisi partai semi permanen di aminkan baik oleh pemeluk agama Islam maupun juga pemeluk agama non Islam. Di pemeluk Islam yang setuju sebesar 75.6%. Di pemeluk agama lainnya sebesar 77.2%.

Bagaimana dari sisi usia dan pengguna medsos?

Segmen usia 30-39 tahun yang paling tinggi tingkat persetujuannya terhadap koalisi partai semi permanen (82.0%)

Masyarakat dengan usia di bawah 30 tahun  yang setuju sebesar 77.6%. Usia 40-49 tahun yang setuju sebesar 74%. Usia diatas 50 tahun yang setuju sebesar 72.2%.

Yang punya medsos maupun yang tidak punya medsos, lebih tinggi sedikit persetujuan dari yag tidak punya medsos. Dari sisi yang punya medsos yang setuju sebesar 75.2%. Dari yang tidak punya medsos yang setuju sebesar 76.3%.

Pengguna medsos aplikasi Twitter (X) yang paling tinggi persetujuannya sebesar 81.3%. Pengguna Whatsapp sebesar 75.3%, pengguna youtube (76%), Facebook (75.9%), email (75.2%), Tiktok (77.0%), Instagram (79.7%).

baca juga : Denny JA: Pemilu Curang, Efek Bansos Hingga Hak Angket

Mengapa koalisi partai semi permanen 20 tahun itu penting?
Pertama, program raksasa seperti pindah ibukota, hilirisasi, digitalisasi, dan makan siang gratis membutuhkan konsolidasi minimal 20 tahun agar tak goyah

Kedua, ganti presiden yang datang dari oposisi dapat mengganti program itu atau membuatnya gagal sebelum kematangan eksekusi program itu

Ketiga, koalisi partai semi permanen lebih dapat memastikan 4 program raksasa itu tercapai

Apa yang bisa membatalakan koalisi partai semi permanen?

Itu jika lahir presiden baru di 2029, 2034, 2039, yang lebih populer dari oposisi. Karena itu koalisi semi permanen 20 tahun ini perlu juga memastikan memiliki capres yang terpilih di pilpres 2029, 2034, dan 2039.

Prabowo dan Gibran, juga Jokowi, berada di momen historik, meletakkan fondasi 20 tahun menuju Indonesia Emas, 2045. Itu era Indonesia, sebagaimana diprediksi lembaga dunia, menjadi negara terbesar ke empat secara ekonomi.

Berdasarkan survei LSI Denny JA, terlepas dari kritik yang pasti ada, namun mayoritas opini publik sudah sangat kondusif. Mayoritas publik seperti menggelar karpet merah bagi dimulainya konsolidasi kekuasaan baru, di bawah komando Prabowo- Gibran.*