Denny JA: Politik Baru Dibalik Kemampuan Ikut Memenangkan Pilpres Lima Kali Berturut Turut

KORANMAKASSAR.COM — “Bagi saya dan teman-teman LSI Denny JA, mendapatkan penghargaan ini, THE LEGEND AWARD, karena lima kali ikut memenangkan Pilpres berturut-turut (Pilpres 2004, 2009, 2014, 2019, 2024), itu seperti sampai di puncak gunung yang tinggi sekali.”

Begitu tinggi tempat itu mungkin puncak gunung itu belum pernah disentuh oleh siapapun. Karena itu, hening suasananya dan sendirian juga di sana.

Melihat sejarah di aneka negara demokrasi, memang belum pernah terjadi satu konsultan politik yang tercatat berhasil memenangkan presiden di negaranya lima kali berturut-turut.

Memang belum pernah juga terjadi di negara demokrasi manapun, konsultan politik yang memenangkan, misalnya juga Perdana Menteri (lewat kemenangan partainya), lima kali berturut-turut.

Namun yang membuat kita senang lagi justru adalah GAGASAN BESAR di belakang pencapaian. Apakah itu?

Ini adalah penanda buah yang paling manis dari datangnya politik baru. Katakanlah ini politik 2.0, kombinasi antara politik demokrasi yang dikawinkan dengan revolusi dalam ilmu sosial.

Ini pesan yang selalu kita berikan kepada siapapun yang ingin menjadi pemimpin di Indonesia, jadi Bupati, Walikota, Gubernur, apalagi Presiden. Pahamilah hukum besi dari politik baru.

Dua prinsip utama politik baru. Pertama adalah perilaku pemilih di era politik demokrasi: One Man One Vote. Satu warga, satu suara. Kesetaraan nilai warga negara di kotak suara.

baca juga : Menangkan Capres Cawapres Lima Kali Beruntun, Denny JA Terima The Legend Award

Untuk menang dalam pertarungan politik baru, dengarlah the heart and the mind of the people. Pahami aspirasi rakyat banyak yang jumlahnya saat ini 204 juta pemilih.

Maka, buka telinga, tidak hanya untuk apa yang heboh di dunia elit di kota-kota besar. Tak hanya suara politisi, pengusaha, para aktivis di kota-kota besar.

Tapi juga dengarkanlah suara rakyat banyak yang ada di pegunungan dan di ujung-ujung desa. Karena dalam politik demokrasi, berlaku prinsip one man one vote.

Inilah kenyataannya. Suara satu orang profesor di universitas ternama di Jakarta sama nilainya dengan suara satu petani di ujung Papua, sana, atau di pegunungan di Aceh, yang terisolasi.