“Overall perekonomian kita saat ini cukup baik dan penanganan Covid-19 kita juga cukup bagus. Saya hanya titip kepada kawan-kawan bupati ayo kita saling kerjasama membangun negeri ini, bangun perkawanan dan dedikasikan diri kita bekerja dengan hati,” imbuhnya.
Sementara itu Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa saat ini tren pemulihan perekonomian global terus berlanjut, sehingga optimisme masih tinggi meskipun faktor-faktor resiko harus tetap diwaspadai.
“Ada hal-hal positif di mana dengan membaiknya ekonomi global ekspor nasional dua bulan berturut-turut ini tumbuh di atas 50%, harga komoditas juga mulai meningkat sehingga ini kabar baik bagi pemerintah daerah yang memiliki keunggulan komparatif di bidang komoditas. Namun di sisi lain kita tetap waspada ada potensi gejolak financial akibat lonjakan inflasi di Amerika Serikat yang mungkin mengubah kebijakan moneternya dan berimbas ke seluruh dunia,” katanya mengingatkan.
Sri Mulyani menekankan bahwa daerah juga harus tetap hati-hati karena efek dari vaksinasi Covid-19 ini belum merata di seluruh dunia.

“Kita harus tetap waspada karena Covid-19 ini tidak mengenal batas negara. Perlu kehati-hatian dalam suasana penanganan Covid-19 di dalam negeri sambil kita mengelola kebijakan fiskal dalam memulihkan sosial ekonomi di masyarakat,” ujarnya.
Di tahun 2020 Sri Mulyani memaparkan data perekonomian nasional terpukul sangat dalam. Ia mengatakan di tahun 2019 perekonomian nasional Indonesia tumbuh 5% dan di tahun 2020 akibat Covid-19 kita mengalami kontraksi 2% dan Bali menjadi salah satu daerah yang terimbas dengan mengalami minus 9,3%. “Tahun 2021 kita berharap bisa pulih dengan menggunakan semua instrumen-instrumen kebijakan.
Di pemerintah kabupaten instrumen yang paling penting adalah APBD. Kalau di nasional APBN adalah instrumen penting maka APBD ini akan tergantung dari APBN di mana akibat Covid-19 negara harus tetap hadir dengan menggunakan APBN untuk penanganannya sehingga imbasnya kita mengalami defisit 6%.”

