“Cara pandang semua agama itu seperti piramid. Kita berasal dari latar belakang agama yang berbeda-beda tapi tujuannya tetap satu. Oleh karena itu jangan kita menjadikan agama untuk memperlebar jurang perbedaan dan alat pemecah ummat, tapi bagaiman kita saling menghargai dan saling menghormati”, jelas Anwar Abubakar.
Lebih lanjut ia mengimbau untuk mengintegrasikan kearifan lokal (lokal wisdom) kedalam materi pengajaran pada lembaga-lembaga pendidikan.
“Sipakalebbi, adalah salah satu filosofi atau falsafah kearifan lokal Bugis Makassar yang sangat berkaitan dengan pembinaan karakter, yaitu tentang bagaiman kita menghargai dan menghormati orang lain”, ungkapnya.
Untuk itu, kata Anwar Abubakar, perlunya mengadopsi kearifan lokal yang mencerminkan sikap saling menghargai, agar tidak terjadi pergeseran nilai, pergeseran karakter dan pergeseran etika pada generasi muda bangsa Indonesia.
“Inilah bedanya anak-anak yang lahir dijaman kolonial dibanding yg lahir dijalan millenial. Anak-anak di jaman dulu itu sangat sopan dan santun”, ujarnya berseleroh.
Diakhir materinya, Kakanwil kelahiran 7 Agustus 1973 ini meminta secara khusus kepada Pembimas Buddha untuk meningkatkan pembinaan pembaca kitab suci agar dapat berprestasi di tingkat nasional.
baca juga : Lantik Dewan Hakim MTQ XXXI, Ini Harapan Kakanwil Kemenag Sulsel
“Nanti beritahu saya untuk mendampingi jika ada utusan Sulsel pada lomba baca kitab suci pada tingkat nasional”, pintanya.
Pandhit Amanvijaya menginformasikan bahwa kegiatan Pembinaan Karakter Pemuda Buddhis ini adalah kegiatan perdana yang dilaksanakan oleh Bimas Buddha Kanwil Kemenag Sulsel selama pandemi Covid 19.
Adapun maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah sebagai program pembinaan pemuda Buddhis yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan wawasan pemuda pada bangsa dan negara Indonesia, meningkatkan karakter pemuda Buddhis yang sesuai dengan Dhamma, dan untuk meningkatkan sadha/keyakinan pemuda Buddhis terhadap ajaran Sang Buddha.(AB)

