HIMTI STMIK AKBA Makassar Gelar Bazar dan Dialog Menolak Lupa Kekerasan Akademik

MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika ( HIMTI) STMIK AKBA Makassar menggelar Bazar dan Dialog dengan tema menolak lupa kekerasan akademik di STMIK AKBA yang dilaksanakan di warkop RMS kelurahan Tello Baru, kecamatan Panakkukang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu 12 desember 2021 malam tadi.

Kegiatan tersebut menghadirkan 11 mahasiswa yang menjadi korban Droup Out ( DO) oleh birokrasi STMIK  AKBA Makassar menjadi narasumber dalam rangka mengenang 2 tahun kekerasan akademik dan Atiqah Wulandari sebagai host .

Misbah selaku korban Droup Out mengatakan bahwa, kekerasan akademik yang menimpah seblas mahasiswa STMIK AKBA Makassar adalah bentuk tindakan antik kritik birokrasi kampus yang mengeluarkan SK DO secara sepihak tanpa melalui prosedur yang diatur dalam buku merah.

Sehingga menjadi kekecewaan bersama korban droup out karena sudah 2 tahun lamanya yang sampai saat ini belum diketahui motif kesalahan yang sebenarnya dilakukan oleh mereka.

“Kami hanya menuntut keadilan dan mewujudkan prinsip-prinsip demokrasi yang tidak lagi diterapkan oleh birokrasi kampus stmik akba makassar yang dianggap fasis dan anti kritik, sebab tidak memberikan jawaban yang rasional terhadap mahasiswa yang menuntut haknya dan hanya mengandalkan kekuasaannya untuk mengeluarkan mahasiswa yang kritis secara sepihak”, ujarnya keawak media, Senin ( 13/12/2021).

baca juga : Polisi Berhasil Mengamankan 7 Pelaku Penyerangan Asrama Mahasiswa di Makassar

Ia menambahkan bahwa, keluhan mahasiswa yang masih aktif melakoni akademiknya di dalam kampus STMIK AKBA Makassar masih saja terjadi, sebab tidak ada lagi kebebasan berorganisasi yang mereka rasakan atas perlakuan birokrasi yang sudah diluar koridor tupoksinya sebagaimana semestinya.

Ironisnya lagi, tindakan intimidasi, deskrimintif yang masih saja dirasakan mahasiswa membuat kawan-kawan lembaga geram dengan perlakuan birokrasi yang semakin jadi-jadi semenjak mereka berhasil mendroup out sebelas mahasiswa dan dijadikan instrumen untuk menakut-nakuti mahasiswa .

“Kami sebagai korban droup out tidak akan pernah melupakan sejarah kekerasan akdemik ini sampai kapanpun dan tetap akan selalu kami kampanyekan sampai keadilan dan prinsip-prinsip demokrasi didalam kampus STMIK AKBA Makassar diwujudkan sebagaimana yang diatur dalam UUD 1945” tegas korban droup out.

Kegiatan yang diselenggarakan berjalan lancar dan terjadi diskusi panjang antara peserta dengan narasumber serta akan mengagendakan aksi didepan kampus STMIK AKBA Makassar dengan grand isu “Menolak Lupa Kekerasan Akdemik Kampus STMIK AKBA Makassar”. (**)