oleh

Inflasi di Sulsel Meningkat 0.63 Persen, BPS: Tembakau Turut Andil

KORANMAKASSAR.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa inflasi yang terjadi di Sulawesi Selatan meningkat sebesar 0,63 persen di awal tahun 2020. Salah satunya tembakau yang memberikan andil tertinggi.

Selain tembakau, ada makanan dan minuman yang juga menjadi teratas dari 11 kelompok pengeluaran.

Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah, membenarkan tentang kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar.

“Makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi terbesar sebesar 2,18 persen. Disusul kelompok kesehatan 0,84 persen dan kelompok pakaian dan alas kaki 0,35 persen,” ujar Yos Rusdiansyah, Senin (3/2/2020).

“Kesehatan tinggi [inflasi] karena ada kenaikan harga vitamin. Ini bisa jadi karena bulan Januari adalah musim hujan jadi rentan gangguan kesehatan. Selain itu ada juga harga dokter gigi dan tarif check up yang naik.”

Lanjut Yos, untuk pengeluaran yang mengalami deflasi adalah transportasi, perumahan, air, listrik dan bahan bakar lainnya.

“Untuk transportasi sebesar 0,56 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar lainnya (0,01 persen) serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan (0,01 persen),” lanjut Yos.

Yos menjelaskan bahwa ada sepuluh komoditas yang mengakibatkan inflasi, antara lain rokok kretek filter, air kemasan, cabai merah, cabai rawit, rokok putih, bawang merah, beras, ikan layang, ikan cakalang dan minyak goreng.

Untuk kota di Sulsel yang mengalami inflasi, di antaranya Makassar, Bone, Bulukumba, Palopo dan Pare-Pare.

“Namun di bulan Januari ini, Pare-Pare yang mengalami inflasi terbesar yakni 0,96 persen,” pungkas Yos.

(Gara)