MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Dunia olahraga Sulawesi Selatan berduka. Petinju legendaris asal Kota Makassar, Saharuddin Anhar, yang dikenal luas sebagai “Raja Kelas Berat” pada era 1990-an hingga awal 2000-an, meninggal dunia akibat sakit, Selasa (20/1/2026) pagi.
Peraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) XV Jawa Timur 2000 itu mengembuskan napas terakhir di rumah kontrakannya yang sederhana di Kompleks Kodam Lama Lorong 15, Borong, Kelurahan Bitowa, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Almarhum dimakamkan pada hari yang sama usai salat Asar.
Saharuddin Anhar, atau yang akrab disapa Dudding, wafat pada usia 55 tahun setelah berjuang melawan komplikasi penyakit gula darah dan ginjal yang dideritanya selama kurang lebih lima tahun terakhir.
Baca Juga : Petinju Sulsel Wakili Indonesia di Kejuaraan Dunia 2024 di Dubai
Ayah enam anak ini diketahui sudah lama tidak dapat beraktivitas normal akibat kondisi kesehatannya yang terus menurun.
Di masa jayanya, Dudding merupakan salah satu petinju paling disegani di kelas berat. Selain meraih emas PON XV Surabaya, ia juga mencatat prestasi internasional sebagai juara Sarung Tinju Emas (STE) tahun 2000 dan 2001, serta pernah mewakili Indonesia di ajang SEA Games dan Asian Games.
Namun, di balik gemerlap prestasi, kehidupan Dudding di masa tua jauh dari kata sejahtera. Lima tahun terakhir, ia tidak lagi mampu bekerja dan harus menjalani hari-hari di rumah kontrakan sederhana bersama anak-anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sang istri, Suriyati, terpaksa bekerja serabutan.
Ucapan duka pun mengalir dari berbagai pihak. Ketua Umum Pengurus Pusat PERTINA periode 2012–2016, A. Reza Ali, menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian almarhum.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga almarhum ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ujar Reza Ali.
Baca Juga ; Pertina Sulsel Kirim Tiga Petinju Ikut Seleknas SEA Games 2025
Ia mengenang Saharuddin Anhar sebagai petinju tangguh dan pekerja keras. “Di eranya, almarhum adalah petinju yang sangat disegani dan dijuluki raja kelas berat. Di luar ring, ia dikenal sebagai pribadi yang gigih demi menghidupi keluarganya,” kenangnya.
Ketua Pengprov PERTINA Sulsel, Harpen Reza Ali, juga mengaku terkejut atas kabar duka tersebut. Ia menilai kepergian Saharuddin Anhar merupakan kehilangan besar bagi dunia tinju Sulawesi Selatan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami turut berduka cita atas meninggalnya petinju legendaris Sulsel yang pernah mengharumkan nama daerah dan Indonesia di kancah tinju amatir, khususnya pada era 90-an,” ucapnya. (*)

