New Normal, BUMN dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Namun dalam sudut pandang tertentu, justru masyarakat dunia termasuk Indonesia akan menjadikan kebutuhan Kesehatan, obat-obatan, alat kesehatan dan pelayanan Kesehatan menjadi prioritas utama.

Dari sudut pandang ini, sehingga menjadikan usaha dibidang Kesehatan merupakan kebutuhan primer, kebutuhan pokok yang sangat urgen yang tidak bisa ditunda.

Demikian pula, kalau melihat potentsi BUMN nasional yang bergerak dibidang produksi, pelayanan Kesehatan seperti perusahaan farmasi, rumah sakit, dan perusahaan kebutuhan sehari-hari, memiliki asset dan potensi penghasilan untuk negara sangatlah besar.

Hal ini dapat terlihat pada asset BUMN Farmasi, yang berpotensi memberikan pemasukan negara signifikan besar.
Perusahaan Nasional dibidang farmasi terebut, seperti: PT. BIO FARMA saat ini telah menjadi induk dari Holding BUMN Farmasi.

Dengan anak Perusahaannya adalah PT. Kimia Farma (KF), PT. Indofarma (Inaf). Serta Cucu perusahaannya, antara lain: PT. Phapros, PT. KF Trading & Dist, KF Apotik (ketiganya dibawah KF), dan PT IGM (dibawah Inaf). Memiliki asset yang sangat besar.

PT. BIO FARMA: Memiliki pabrik di Bandung dan lahan pemeliharaan hewan di Lembang. Fokus pada produk Vaksin, Sera, Blood Product, Biosimilar, Diagnostik Kit, Stem Cells dll. Pendapatan pertahun sekitar Rp 3,6 T. Memiliki agen pemasaran di berbagai negara.

Perusahaan ini sudah melakukan ekspor ke lebih 130 negara. Memilki kerjasama dgn berbagai lembaga di LN antara lain WHO, Unicef, PAHO dll. Juga merupakan leader dibidang Vaksin dan Sera diantara negara-negara berkembang yang pada umumnya dan negara-negara Islam pada khususnya. BUMN ini memiliki Karyawan sekitar 1.200.
Demikian pula PT. KIMIA FARMA yang berfokus pd obat paten dan generik, Herbal serta Alkes. Juga bisnis Apotik dan Labkes. Memiliki pabrik di Jakarta, Medan, Semarang, Sarolangun, Watudakon dan Tanjung Morowa.
Kimia Farma memiliki anak usaha PT KF Apotik dgn 1.300 Apotik, PT KF T-D sekitar 50 cabang PBF dan LABKES sekitar 45 diseluruh Indonesia, dengan jumlah karyawan sekitar 5.600 dan pendapatan sekitar Rp 9 T.
Sedangkan PT. PHAPROS yang berfokus pada obat OTC, ethical, medical devices dan toll manufacturing. Produksi sekitar 342 item obat. Omzet sekitar Rp 1,5 T. Karyawan sekitar 1.000. Dan terakhir PT Kimia Farma juga sudah mengekspor produknya kebelasan negara

Ditambah PT. INDOFARMA yang berfokus pada obat generik dan memiliki fasilitas khusus mesin extract. Serta mempekerjakan karyawan sekitar 1.400. Omzet Rp 2 T. Anak usahanya PT IGM memiliki sekitar 35 cabang PBF diseluruh Indonesia.

baca juga : Kementerian BUMN Akan Duplikasi Inovasi RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet di Sejumlah Daerah

Sehingga kalua dijumlahkan, Holding BUMN Farmasi nasional, memiliki total Karyawan 9.200, dengan omzet puluhan triliun. Yang jika dimaksimalkan bisa meningkat secara cepat sehingga bisa menopang kekuatan ekonomi Nasional.
Sehingga dengan mengamati kasus Coronavirus COVID-19 yang telah menjadi ancaman dunia yang menginfeksi jutaan penduduk dunia. Oleh karena itu semua penyakit akibat infeksi virus, drag of choices, atau pengobatan utamanya adalah VAKSIN.

Berdasarkan kondisi nyata diatas, dan memperhatikan keseimbangan kebutuhan (demand) dan Pengeluaran (Output) masyarakat, serta besarnya potensi BUMN Nasional seperti contohnya Bio Farma dan berbagai anak perusahaannya, bisa berperan sangat strategis untuk kepentingan penopang ekonomi nasional dalam kondisi resesi ekonomi dewasa ini.

Dalam makna, menjadi pemasukan Ratusan trilliun rupiah untuk kepentingan Nasional, bahkan jika biofarma dikelola dengan baik beserta BUMN Kesehatan lainnya (rumah sakit, serta obat-obatan dan alat Kesehatan) dipastikan mampu menjadi buffer atau andalan pemerintah untuk menopang ekonomi nasional. (*)