MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Stadion Sudiang adalah proyek stadion bertaraf internasional yang direncanakan dibangun di Kecamatan Biringkanaya, Makassar. Pengerjaan groundbreaking dan pengerjaan fisik lainnya oleh PT Waskita Karya yang dianggarkan senilai Rp 637 miliar sudah dimulai pada awal 2026 ini.
Stadion yang berkapasitas 27.000 penonton ini didesain dengan konsep kapal Pinisi dan berlokasi di area GOR Sudiang seluas 20 hektar, bertujuan sebagai pusat olahraga baru di Indonesia Timur.
Stadion ini dirancang sebagai sarana olahraga modern multifungsi untuk meningkatkan infrastruktur olahraga di Makassar. Proyek ini diharapkan menjadi ikon baru Sulawesi Selatan dan mendukung pengembangan prestasi olahraga serta ekonomi lokal.
Namun sangat disayangkan proyek yang bernilai ratusan milyar ini ternyata ganti rugi pembebasan lahannya masih belum tuntas sehingga dengan sangat terpaksa salah seorang pemilik tanah yang lokasinya terkena proyek pembangunan, Agus Bustam, memasang spanduk pelarangan untuk melakukan pembangunan di lahannya.
Bukan untuk menghalangi pembangunan tapi pemilik lahan hanya meminta agar hak mereka atas tanah tersebut segera dituntaskan.
“Kami tidak bermaksud menghalang-halangi kegiatan pembangunan yang saat ini sedang berlangsung, namun kami menuntut agar pemerintah provinsi Sulsel yang bertanggung jawab terhadap proyek tersebut menyelesaikan dulu kewajibannya untuk menuntaskan pembayaran atas lahan kami yang terkena proyek,” ujar Agus saat ditemui wartawan di Sudiang, Senin (26/01/2026).
baca juga : Puluhan Pedagang GOR Sudiang Deklarasikan Koperasi APP Sulsel
Lebih lanjut Agus mengatakan bahwa kami sengaja melarang kegiatan di atas tanah kami sebelum pengerjaan berlanjut, karena bila sudah ada bangunan di atas lahan miliknya tidak mungkin disuruh bongkar, dan bila pemilik membongkarnya sendiri itu artinya pelanggaran pidana pengrusakan sudah dilakukan.
“Kami hanya ingin agar pihak Waskita Karya ikut membantu pemilik lahan mendesak pemerintah untuk segera menuntaskan masalah ganti rugi lahan kami,” tutup Agus.
Reporter : Junaid Ramadhan
Editor : Nhana

