“Ditengah kondisi global yang bergejolak, masyarakat seperti ini justru lebih tahan terhadap tekanan atau turbulensi global. Mereka tidak mudah panik oleh perang dagang, konflik geopolitik, atau pelemahan nilai tukar karena sebagian besar kebutuhan hidupnya tidak sepenuhnya bergantung pada barang impor,” kata Darmizal.
Darmizal mengungkapkan, masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang seluruh hidupnya tergantung pada produk luar negeri dan mata uang asing.
Akan tetapi masyarakat yang mampu memanfaatkan sumber dayanya sendiri dengan kreativitas dan ilmu pengetahuan.
“Kearifan lokal bukan berarti kembali mundur ke masa lalu. Justru kearifan lokal harus dipadukan dengan teknologi modern. Petani desa dapat menggunakan aplikasi digital untuk pemasaran hasil panen. Pengrajin lokal dapat menjual produk ke seluruh dunia melalui internet. Anak muda desa dapat membangun usaha kopi, gula aren, wisata alam, peternakan modern, hingga industri pangan sehat berbasis potensi daerah,” urai Darmizal.
Baca Juga : Eks Petinggi Demokrat Tegaskan Dukung Prabowo-Gibran Sampai Tuntas
Desa masa depan, lanjut Darmizal, bukan desa miskin dan tertinggal. Desa masa depan adalah pusat produksi pangan, energi, budaya, dan ekonomi kreatif bangsa.
“Karena itu, tekanan global sebenarnya dapat menjadi momentum kebangkitan nasional. Ketika harga impor mahal, bangsa dipaksa menemukan kemampuan dirinya sendiri. Ketika dunia terguncang, kreativitas rakyat tumbuh dengan memanfaatkan perangkat IT dan jaringan Internet yang tersedia sebagai sarana pemasaran terukur dan tepat sasaran. Ketika ketergantungan dikurangi pada asing, martabat bangsa meningkat,” terangnya.
Diungkapkan Darmizal, negara-negara besar dunia pun sesungguhnya melakukan hal yang sama. Mereka memperkuat pangan domestik, melindungi petani, menjaga energi nasional, dan membangun industri dalam negeri agar tidak mudah ditekan oleh keadaan global.
“Indonesia memiliki kelebihan yang luar biasa seperti tanah yang subur, air melimpah, sinar matahari sepanjang tahun, keanekaragaman hayati terbesar, garis pantai panjang, sumber pangan beragam dan budaya gotong royong yang kuat.
“Dengan modal sebesar itu, sangat logis bila pemimpin bangsa mendorong rakyat agar tidak memiliki mental ketergantungan,” ujarnya.
Baca Juga : Darmizal: Presiden Prabowo Negarawan Sejati Ditengah Gejolak Dunia
Diungkapkan Darmizal, pesan Prabowo Subianto sesungguhnya adalah ajakan membangun ketahanan nasional dari bawah: dari keluarga, desa, petani, nelayan, UMKM, dan ekonomi rakyat.
“Bukan berarti menolak perdagangan internasional atau menafikan pentingnya devisa negara. Dolar tetap penting dalam hubungan ekonomi global, investasi, ekspor-impor, dan pembangunan industri strategis. Namun kehidupan rakyat sehari-hari tidak boleh rapuh hanya karena gejolak mata uang dunia,” tandasnya.
Darmizal menegaskan, bangsa besar adalah bangsa yang tetap bisa makan, bekerja, hidup tenang.dan menjaga martabatnya bahkan ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.
“Dan Indonesia, dengan seluruh kekayaan alam dan kearifan lokalnya, sesungguhnya memiliki kemampuan untuk itu,” tutup Darmizal. (*)


Komentar