Tinjau Urban Farming di Tamalate–Wajo, Wali Kota Munafri Targetkan Kemandirian Pangan Warga Makassar

Ia menekankan, praktik baik dari kedua wilayah tersebut akan menjadi model untuk dikembangkan di seluruh kecamatan di Kota Makassar, dengan dukungan lintas sektor dari berbagai perangkat daerah.

“Semua kecamatan harus memiliki program urban farming, disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah,” tegasnya.

Sementara itu, Plt Camat Wajo, Ivan Kala’lembang, menyebut program urban farming di wilayahnya terus menunjukkan perkembangan positif. Lahan lorong yang sebelumnya terbatas kini disulap menjadi kawasan produktif dengan budidaya terpadu.

Ia menjelaskan, peternakan ayam petelur jenis Australorp (ayam coper) saat ini mampu menghasilkan sekitar 12 hingga 20 butir telur per hari dan terus meningkat.

Baca Juga : Wali Kota Makassar Tekankan Legalitas Aset, Pemkot Perkuat Sinergi ATR/BPN dan KPK

Program ini juga didukung kemitraan dengan peternak besar, termasuk fasilitas mesin penetasan telur untuk menjaga keberlanjutan produksi.

Selain itu, masyarakat juga menanam berbagai komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, terong, hingga tanaman khas seperti lombok katokkon.

Ivan menambahkan, program ini tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada penanganan stunting melalui rencana pemberian satu telur per hari bagi anak-anak yang membutuhkan.

“Kami bersyukur lahan sempit bisa dimaksimalkan. Ini bukti bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk produktif,” ujarnya.

Pemkot Makassar memastikan akan terus mendukung pengembangan urban farming agar menjadi gerakan masif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mewujudkan kota yang mandiri pangan dan berkelanjutan. (*)

Komentar