Salah satunya adalah sejarah dan filosofi kapal Pinisi, kapal tradisional Sulawesi Selatan yang kini telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia.
“Cerita tentang Pinisi ini adalah cerita penemuan teknologi luar biasa dari nenek moyang kita sebagai bangsa bahari. Tapi sekali lagi, kita jarang menceritakannya kepada orang di luar,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, dia mengusulkan agar Pemerintah Kota Makassar, menyelenggarakan agenda khusus yang mengundang para duta besar negara sahabat untuk menikmati sunset dan atraksi bahari Makassar secara langsung.

Lanjut dia, jika para Dubes datang dan melihat sendiri bahwa ini adalah salah satu kota terbesar di Indonesia dengan pemandangan seindah ini, ia yakin akan membantu promosi Kota ini dimata dunia.
“Dua jam terbang dari Jakarta, mereka bisa mendapat pengalaman yang tidak terlupakan,” imbuh dia.
Anis kemudian mencontohkan keberhasilan promosi budaya yang dilakukan Kedutaan Besar RI di Tunisia, yang kini mendorong sekitar 30 ribu wisatawan Tunisia datang ke Indonesia, angka yang besar untuk negara dengan populasi hanya 10 juta jiwa.
Ia menegaskan bahwa Kementerian Luar Negeri siap membantu Pemerintah Kota Makassar dalam mempromosikan potensi dan cerita besar tentang kota ini.
“Kota ini punya kelebihan, keinginan untuk terus berbenah yang tidak pernah selesai. Dinamika ini perlu kita ceritakan,” tuturnya.
Dalam momen penuh nostalgia, Anis juga mengenang masa mudanya yang banyak dihabiskan di kawasan Pantai Losari.
Ia menyebut Pantai Losari sebagai tempat yang menginspirasi perjalanan hidupnya sejak SMA dan kuliah.
“Dulu saya sering datang ke sini, membaca buku di Benteng Rotterdam sejak pagi sampai magrib, lalu duduk di sini sambil makan nasi goreng merah,” kenang Anis.
“Ini tempat saya banyak melakukan latihan pribadi dan pengembangan diri. Tempat yang sangat berarti bagi saya,” lanjutnya.
Baca Juga : Digitalisasi Mandek, Wali Kota Makassar Desak OPD Tinggalkan Sistem Manual
Di akhir sambutannya, Anis kembali menegaskan dukungannya agar Makassar semakin dikenal di tingkat global, terutama di dunia Islam.
Ia berharap, mudah-mudahan suatu waktu bisa bekerja sama mendatangkan duta besar negara-negara Islam ke sini.
“Dan untuk itu, carilah orang yang bisa berbahasa Arab, yang bisa menceritakan Makassar dengan penuh kebanggaan, seperti cerita tentang Pinisi ini,” pungkasnya. (*)

