Saat ditemui awak media, Sabtu (23/11/24), Hj Nurcaya mengeceritakan kronologis kejadian sebelum kejadian naas itu, suami pelaku bernama Sahar, juga pernah memukuli kepalaku dengan botol serta meninju mukaku, saya pun menelpon Binmas, Babinsa tapi yang datang hanya Pak Binmas,
“Binmas menyampaikan ke saya, kalau terjadi perselisihan karena jalan masuk perumahan di pakai bangun pagar atas izin pemilik perumahan, tetapi itu masih wilayah lokasi rumahku yang saya beli dia jadikan pagar tidak ada jalan untuk kami hanya tembok sebagai pembatas rumah nya, semestinya dia minta izin ke saya juga”, ucap Hj. Nurcahya yang biasa di sapa Hj. Caya
Singara seakan-akan mau menguasai kami, bahkan pernah acara pengantin keluarganya teras rumah saya dalam keadaan kosong dan terkunci dia pake pesta, elekton dia taruh di situ, pagarku di samping di rusak, orang mana yang tidak sakit hati di perlakukan seperti ini, keluh Hj. Caya.

Beberapa saat sebelum kejadiaan saat saya hendak menghantar pesanan jalangkote, suami pelaku bilang, jangan kamu mau di kalah dengan orang pincang keluarko lawanki, bunuhki“, itu ucapan suaminya Singara kepada istrinya, kebetulan saya mau pergi menjual jalankote ada pesanannya orang mau dibuatkan,
”Saat saya keluar bersama anak lelakiku alif (8 tahun) bawa jajanan Jalangkote, Singara tiba-tiba menjambak rambutku dari belakang dan menjatuhkanku ketanah, saya berusaha memegang keranjang jalangkoteku ‘agar tidak tumpah di tanah, tiba-tiba saya terguling jatuh ke tanah di samping tembok rumahku tas yang saya salempang mungkin tidak sengaja terbuka”, tuturnya.
Singara kemudian melihat pisau dapur yang saya beli waktu kepasar ada di dalam tas, saya lupa menyimpannya di dapur waktu mau keluar rumah, pisau, itu yang dia ambil untuk menyayat tangan kananku.
Kasus yang menimpa Hj. Nurcahya adalah contoh nyata dari kompleksitas masalah kekerasan dalam masyarakat kita. Sebagai hati pemerhati sosial, saya merasa sangat prihatin dengan situasi yang dialami oleh Hj Nurcahya, di mana seorang korban justru berisiko menjadi tersangka. Hal ini menunjukkan adanya ketidakadilan dalam penegakan hukum yang seharusnya melindungi korban, bukan malah menambah beban psikologis dan fisik mereka.
Muh. Jupri, pengamat dan pemerhati Sosial Kemasyarakatan, saat ditemui disalah satu warkop di seputar Jalan Ratulangi (23/11/224) mengatakan “Kekerasan yang dialami Hj Nurcahya bukan hanya sekedar tindakan fisik, namun juga mencerminkan masalah yang lebih besar dalam interaksi sosial di lingkungan kita”.
Perselisihan yang berawal dari hal sepele, seperti menjemur padi di depan rumah, menunjukkan bahwa komunikasi yang buruk dan tidak adanya pihak yang mampu menyelesaikan konflik secara damai dan berakhir pada tragedi naas ini.
*Binmas, Babinsa, Lurah, RW/RT, LPM seharusnya menjadi garda terdepan dalam mencegah terjadinya konflik, bukan berpihak kesalah satu pihak yang akhirnya terjadi perlawanan hukum diwilayahnya”, ungkap Jupri
Lebih jauh lagi, kasus ini menyoroti perlunya reformasi dalam sistem hukum kita. Penegakan hukum yang adil dan transparan sangat penting untuk memastikan bahwa korban mendapatkan perlindungan yang mereka butuhkan.
Dalam hal ini, aparat penegak hukum harus lebih peka terhadap situasi yang dihadapi oleh korban dan tidak ragu untuk mengambil tindakan yang tepat terhadap pelaku kekerasan.
baca juga : Keluarga Siswa SMAN 1 Makassar Korban Penganiayaan Kecewa Dengan Polisi
“Saya juga ingin menekankan pentingnya dukungan sosial bagi korban kekerasan. Hj. Nurcahya dan anaknya, Alif, kini berada dalam situasi yang sangat sulit. Masyarakat, lembaga pemerintah, dan organisasi non-pemerintah harus bersatu untuk memberikan dukungan yang diperlukan, baik dari segi psikologis maupun ekonomi. Kita harus memastikan bahwa mereka tidak merasa sendirian dalam perjuangan mereka untuk mendapatkan keadilan”, ucao Jupri.
Akhirnya, saya berharap kasus ini dapat menjadi momentum bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap isu kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan berbasis gender. Kita perlu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung semua individu, terutama bagi mereka yang rentan. Mari kita bersama-sama berjuang untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat kita. Tutur Jupri menutup percakapan. (Restu)

