BARRU, KORANMAKASSAR.COM – Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) yang tengah menjalani program magang di KPH Ajatappareng turut terlibat dalam kegiatan pengolahan gula aren dan gula semut bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Puncak Mesula.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan hasil hutan bukan kayu (HHBK) serta pengembangan produk unggulan masyarakat yang berkelanjutan di wilayah kerja KPH Ajatappareng.
Di lokasi pengolahan, para mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari pengumpulan nira aren, proses pemasakan, pencetakan gula aren, hingga pengolahan gula semut yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan potensi pasar lebih luas.
Baca Juga : Prodi Manajemen Informatika Polimak Gelar Kuliah Umum Startup Digital, Bekali Mahasiswa Hadapi Era Teknologi
Selain praktik produksi, mahasiswa juga mempelajari proses pengemasan, pengendalian mutu, serta strategi pengembangan usaha yang dilakukan kelompok tani dalam meningkatkan nilai tambah produk berbasis aren.
Pihak KPH Ajatappareng menyebut keterlibatan mahasiswa memberikan nilai tambah dalam kegiatan pendampingan, terutama dalam aspek dokumentasi, pembelajaran lapangan, serta munculnya ide-ide inovatif untuk pengembangan usaha kelompok tani.
Pengolahan gula aren dan gula semut ini dinilai sebagai salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya hutan yang ramah lingkungan, karena tidak merusak pohon dan tetap mendukung prinsip pengelolaan hutan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan.
Baca Juga ; Tiga Mahasiswa Unhas Selesaikan Praktik Kerja, Terlibat Pendataan Cagar Budaya Makassar
Dalam diskusi bersama, mahasiswa dan anggota KTH Puncak Mesula juga membahas sejumlah tantangan pengembangan produk, seperti peningkatan kualitas, desain kemasan, serta perluasan akses pemasaran agar produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
KPH Ajatappareng berharap sinergi antara mahasiswa, masyarakat, dan kelompok tani dapat terus diperkuat untuk mendorong inovasi dan pengembangan produk HHBK yang bernilai ekonomi tinggi.
Kegiatan ini menjadi wujud kolaborasi nyata antara dunia akademik dan masyarakat dalam mendorong pengelolaan hutan berkelanjutan serta pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal. (*)


Komentar