MAKASSAR, KORANMAKASSAR.com — Mundurnya Munafri Arifuddin atau Appi dari Partai Golkar dinilai berpotensi mengubah peta politik di Kota Makassar dan Sulawesi Selatan.
Pengamat politik Musjaya menilai, Golkar kehilangan salah satu figur penting yang memiliki rekam jejak elektoral serta jaringan politik yang kuat dan mengakar di masyarakat.
Menurut Musjaya, selama memimpin Golkar Makassar, Appi mampu membawa partai tersebut mencatatkan capaian politik yang signifikan, termasuk meraih suara besar pada pemilihan legislatif dan memenangkan Pilkada Makassar.
“Kalau melihat rekam jejak Pak Appi, beliau memiliki prestasi cukup gemilang di Golkar. Dalam waktu relatif singkat memimpin Golkar Makassar, beliau mampu membawa partai meraih perolehan suara terbesar pada Pileg Kota Makassar,” ujar Musjaya, Rabu (7/10/26).
Baca Juga : Gerbong Appi Ikut Mundur dari Golkar, Erte Mudayya: Kami Loyalis Ikut
Ia menambahkan, keberhasilan memenangkan Pilkada Makassar menjadi salah satu capaian penting yang memperkuat posisi Golkar di tingkat daerah.
Selain capaian elektoral, Musjaya menyoroti jaringan politik dan loyalis Appi yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Menurutnya, kekuatan tersebut menjadi modal politik yang tidak mudah dibangun dalam waktu singkat.
“Pak Appi memiliki jaringan politik dan loyalis yang besar serta mengakar di Kota Makassar. Jaringan itu terbentuk melalui proses panjang dan memiliki pengaruh dalam dinamika politik daerah,” jelasnya.
Musjaya menilai, posisi Appi sebagai Wali Kota Makassar juga menjadi faktor penting. Sebagai salah satu daerah dengan jumlah pemilih terbesar di Sulawesi Selatan, Makassar memiliki peran strategis dalam menentukan arah politik regional.
Karena itu, keluarnya Appi dari Golkar dinilai bukan sekadar kehilangan seorang kader, melainkan berpotensi memengaruhi konfigurasi dan kekuatan politik partai di Sulawesi Selatan.
Baca Juga : Pleno Perdana Golkar Sulsel, IAS Pacu Konsolidasi dan Bidik Tambahan Kursi Legislatif
“Golkar Sulsel kehilangan sosok yang selama ini memiliki potensi besar untuk membesarkan partai, khususnya di Makassar,” tegasnya.
Sebaliknya, Musjaya menilai partai politik yang nantinya menjadi pilihan Appi berpeluang memperoleh keuntungan strategis dari kehadiran mantan kader Golkar tersebut.
“Beruntunglah partai yang akan mendapatkan Pak Appi. Ibarat mendapat durian runtuh, mereka memperoleh figur dengan jaringan dan modal politik yang sudah terbentuk,” pungkasnya.
Perkembangan politik Appi diperkirakan akan menjadi salah satu faktor yang menarik untuk dicermati, terutama dalam melihat perubahan peta kekuatan partai politik di Makassar dan Sulawesi Selatan ke depan. (*)


Komentar