DARI MIMBAR KE MEJA KOPI
Barangkali sudah waktunya kita berhenti memperdebatkan apakah dakwah boleh dilakukan di warung kopi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah pesan dakwah dapat menyentuh hati manusia?
Sebab dakwah pada akhirnya bukan persoalan panggung.
Bukan persoalan mikrofon.
Bukan persoalan mimbar.
Bukan pula persoalan apakah seseorang duduk di masjid atau cafe.
Dakwah adalah persoalan manusia dan perubahan.
Jika seorang anak muda yang selama ini merasa jauh dari agama akhirnya mau berdiskusi tentang Tuhan karena dia merasa nyaman berbicara di warung kopi, maka ruang itu telah menjadi bagian dari proses dakwah.
Jika seorang mahasiswa yang selama ini hanya melihat agama sebagai sesuatu yang formal akhirnya menemukan makna spiritual melalui dialog santai dengan seorang dai, maka meja kopi itu telah menjadi ruang pendidikan keagamaan.
Jika seorang anak muda yang sedang mengalami kegelisahan menemukan kembali harapan setelah berbicara tentang agama bersama komunitasnya, maka percakapan sederhana itu memiliki makna dakwah.
Mungkin kita perlu mengubah paradigma:
Jangan hanya bertanya, “Di mana kita berdakwah?”
Tetapi bertanyalah:
“Di mana masyarakat kita berada?”
Setelah itu, datangilah mereka.Sebab dakwah tidak boleh menjadi menara yang hanya menunggu manusia datang. Dakwah harus menjadi jembatan yang berani mendatangi manusia.
Dan jika hari ini generasi milenial dan Gen-Z banyak menghabiskan waktunya di ruang-ruang digital, kampus, komunitas, warung kopi, dan cafe, maka tidak ada salahnya apabila dakwah juga hadir di sana.
Bukan untuk mengubah cafe menjadi masjid.
Bukan untuk menghilangkan fungsi masjid.
Tetapi untuk memastikan bahwa agama tetap hadir dalam kehidupan manusia.Karena bisa jadi, generasi yang tidak pernah datang ke mimbar bukanlah generasi yang tidak membutuhkan dakwah.
Mereka mungkin hanya sedang menunggu dakwah datang kepada mereka dengan cara yang lebih manusiawi.Dan mungkin, percakapan itu dapat dimulai dari satu meja, dua kursi, secangkir kopi, dan sebuah pertanyaan sederhana:
“Apa yang sedang kamu cari dalam hidupmu?”


Komentar