MAROS, KORANMAKASSAR.COM — Perjalanan Madrasah Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) Alliritengae, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, menjadi cerita panjang tentang ketulusan, pengabdian dan perjuangan menghadirkan pendidikan keagamaan bagi masyarakat.
Dirintis sejak 1982, madrasah ini pernah mengalami masa sulit hingga harus menggratiskan biaya pendidikan demi mendapatkan murid.
Ketua Yayasan Addariyah Madrasah DDI Alliritengae, H. Syamsuddin Ballu, mengenang masa tersebut sebagai bagian dari perjuangan awal membangun madrasah.
“Yang penting ada niat, kemauan dan ada biaya ke madrasah, mereka bisa sekolah saja dulu,” kenangnya.
Untuk menghidupkan madrasah, pengelola bahkan merangkul keluarga dan kerabat agar mau menyekolahkan anak-anak mereka. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan lulusnya angkatan pertama MTs DDI Alliritengae.
Baca Juga : Sebanyak 79 Sekolah Makassar Diusulkan Revitalisasi, Pulau Sangkarrang Jadi Prioritas
Perkembangan terus berlanjut. Pada 1986, Yayasan Addariyah mendirikan Madrasah Aliyah (MA) DDI Alliritengae yang hingga kini terus berkembang di Jalan Takwa Nomor 2, Maros.
Semangat pengabdian juga menjadi kekuatan utama madrasah. Pengurus Yayasan sekaligus Ketua Komite, H. Abd. Rasyid, yang mulai mengabdi sebagai guru sejak 1990, mengatakan sebagian besar tenaga pendidik merupakan alumni yang kemudian kembali mengabdi di almamaternya.
“Rata-rata gurunya alumni, kemudian diberdayakan. Ada juga pengajar dari Pesantren DDI Mangkoso. Jiwa pengabdiannya tinggi,” ujarnya.
Kini, madrasah tersebut terus melakukan pembenahan, baik dari sisi sarana fisik maupun peningkatan prestasi siswa. Pembinaan keagamaan juga menjadi bagian penting dalam aktivitas pendidikan.
Baca Juga : Wabup Pinrang Tekankan Peran Strategis Pesantren dalam Mencetak Generasi Berakhlak dan Berdaya Saing
Kepala MA DDI Alliritengae, Rakib, mengatakan siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran di kelas, tetapi juga dibekali keterampilan keagamaan seperti khutbah, menjadi imam, tilawah dan kultum.
“Kalau Salat Jumat, khatib dan imam diisi para murid. Setelahnya ada pengajian dan latihan tilawah. Kultum setelah Salat Zuhur juga rutin setiap hari,” jelasnya.
Saat ini MA DDI Alliritengae memiliki 113 siswa, sementara terdapat sekitar 90 siswa pada jenjang SMA dan 32 guru. Yayasan Addariyah juga menaungi jenjang pendidikan MTs dan SMP.


Komentar