Dari indikator ini, ribut- ribut yang masif, baik natural ataupun digerakkan sekelompok orang untuk menurunkan citra Gibran, justru menaikkan elektabilitas Gibran! Hasilnya justru berbalik.
indikator kedua adalah perbandingan efek elektabilitas cawapres. Kita simulasikan elektabilitas antara cawapres: Gibran lawan Mahfud lawan Muhaimin Iskandar. Tiga tokoh itu saja yang dianalisis.
Hasilnya? Gibran bahkan kini sudah unggul double digit dibandingkan Mahfud, apalagi terhadap Muhaimin Iskandar. Elektabilitas Gibran cukup tinggi: 40,9%. Mahfud hanya 26,4%. Sedangkan Muhaimin Iskandar 18,5%.
Ketiga, kita lihat juga bagaimana efek Gibran ini di kalangan berbagai segmen masyarakat. Sosok Gibran sudah bisa mengambil tambahan suara di Jateng.
Sebelum dan setelah putusan MK, elektabilitas Gibran di Jateng bertambah 13, 9%. Di kalangan pemilih generasi milenial, Gibran menaik 1,6%. Pada pemilih yang puas Jokowi, ia mengambil tambahan sebanyak 4,5%.
Dari tiga data itu, kita mengerti. Mengapa setelah putusan MK, secara agregat pemilih, totalitas 204,8 juta pemilih, dari segala usia, semua teritori, segala lapisan ekonomi, dan pendidikan, justru setelah putusan MK, elektabilitas Gibran menanjak, dan lebih memberi tambahan dukungan kepada Prabowo- Gibran.
Hujatan dan serangan pasca putusan MK, isu dinasti, nepotisme, demokrasi mendung, membuat sebagian pemilih pergi dari Prabowo- Gibran, tapi justru lebih banyak yang datang mendukung pasangan ini.
baca juga : Denny JA: Ganjar Versus Gibran di Jawa Tengah, Pertarungan Penentu Kemenangan
Sebelum putusan MK, bisa dicek di Google, saya sudah menyatakan bahwa Gibran ini bisa dipilih oleh Prabowo sebagai cawapres, justru dengan pertimbangan elektoral yang matang.
Mengapa? Dengan memilih Gibran, tiga gerbong suara yang besar potensial bisa dibawa oleh Gibran. Yaitu anak muda milenial, yang jumlahnya lebih dari 50%, juga pemilih yang puas pada Jokowi (lebih dari 75%), dan pemilih Jateng, untuk membelah suara Ganjar.
Kini tambahan dukungan karena efek Gibran terbukti. Hal ini besar kemungkinan membingungkan sebagaian orang. Gibran diserang, Kok bisa malah elektabilitasnya bertambah?
Tapi bagi yang memiliki data perilaku pemilih, yang terus melakukan riset nasional setiap bulan, dan menganalisisnya secara agregat, secara totalitas, itu hal yang biasa saja, bahkan bisa diprediksi.*

