-00”-
Film ini menghadirkan beberapa tokoh sentral, di antaranya: Asahan Alham Aidit, Hartoni Ubes, Sarjio Mintardjo, dan I Gede Arka.
Pembuat film perlu diapresiasi karena ia berani dan berhasil merekam satu babak sejarah kelam Indonesia. Ekspresi ceritanya menyentuh karena personalisasi peristiwa itu dari pengalaman pribadi para warga yang terbuang.
Sejak awal, saya sudah tersentuh dengan puisi yang dibuat oleh Chalik Hamid, seorang eksil yang juga terbuang dari Indonesia.
“Kuburan kami ada di mana-mana, kuburan kami berserakan di mana-mana, di berbagai negeri, di berbagai benua.”

