Industri Gelap ‘Passobis’ di Sidrap Sudah Menggurita

SIDRAP, KORANMAKASSAR.COM – Di permukaan, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) tampak tenang. Sawah hijau terbentang, jalan desa rapi, dan kegiatan masyarakat berjalan damai seolah menjadi wajah utama daerah ini.

Namun, di balik ketenangan itu, sebuah industri gelap—oleh warga lokal disebut “passobis”—beroperasi masif, sistematis, dan nyaris tanpa hambatan.

Tim investigatif kami melakukan liputan silent selama hampir sepekan di berbagai titik Sidrap, dari Mojong, Allakuang, Alesalewo, hingga pesisir Danau Sidenreng.

Temuan jauh melampaui ekspektasi: praktik ilegal yang terstruktur, melibatkan ribuan orang, bukan sekadar penipuan daring kecil.

Sebelumnya, tim kami sudah lebih awal melakukan pengumpulan informasi dari berbagai sumber di Sidrap sebelum akhirnya terjun ke lapangan.

Di Mojong, sekitar 25–30 kilometer dari Pangkajene ke timur, ribuan orang tergabung dalam kelompok passobis.

Rumah dan kebun menjadi “kantor sementara,” dengan struktur kepemimpinan jelas, pengaturan target korban, dan pembagian keuntungan.

Ilustrasi

Modusnya beragam: jual kendaraan dan ponsel fiktif, investasi bodong, hingga perdukunan abal-abal yang menjanjikan kekayaan instan atau kesembuhan supranatural.

Di Allakuang, hanya 5–6 kilometer dari pusat kota ke selatan, pemandangan serupa terlihat. Anak muda bekerja hingga larut malam dengan laptop dan ponsel, memantau target dan mengatur komunikasi antaranggota.

Sementara di Alesalewo, dusun terpencil di Panca Lautang, praktik ini berjalan lebih tersembunyi.

Rumah-rumah terpencil dijadikan tempat praktik passobis, jauh dari perhatian publik, dengan jaringan komunikasi rahasia yang membuat aparat kesulitan menelusuri.

baca juga : Kasus Penipuan Online, Kabid Humas Polda Sulsel: Kami Baru Menerima Laporan Korban Dari Luar Sulawesi

Di pesisir Danau Sidenreng, kelompok kecil siap menyebarkan hasil penipuan ke wilayah lain, dengan perahu siaga bila aparat mendekat.

Fenomena ini bukan tanpa korban. Ribuan warga, baik dari Sulsel maupun luar daerah bahkan luar negeri, kehilangan dana. Lebih tragis, generasi muda lokal terjerumus menjadi pelaku atau terdampak secara mental.

Etos kerja tergeser budaya cepat kaya, dan masa depan mereka terancam. Seorang warga anonim menuturkan, “Anak muda di sini mulai kehilangan arah. Mereka bangga bisa menghasilkan uang instan, tapi mental dan masa depannya hancur.”