Penceramah dan Kemandirian Ekonomi: Agar Dakwah Tidak Tergadai Oleh Kebutuhan

KORANMAKASSAR.com — Menjadi penceramah bukan berarti seseorang harus menggantungkan seluruh kebutuhan hidupnya dari honor ceramah. Justru, seorang pendakwah idealnya memiliki pekerjaan atau sumber penghasilan lain yang halal dan mandiri. Dengan begitu, dakwah tetap menjadi ruang pengabdian, pendidikan, dan penyampaian kebenaran, bukan semata-mata menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Persoalannya bukan pada boleh atau tidaknya penceramah menerima honor. Menghargai ilmu, waktu, tenaga, dan pengorbanan seorang pendakwah melalui honor adalah sesuatu yang wajar. Yang menjadi persoalan adalah ketika kebutuhan ekonomi yang mendesak membuat honor ceramah berubah dari penghargaan menjadi tujuan utama.

Dalam kondisi seperti itu, kompetisi mendapatkan jadwal ceramah dapat berubah menjadi persaingan yang tidak sehat.

Fenomena semacam ini dapat kita temukan dalam kehidupan sosial: ada pendakwah yang berusaha mendapatkan sebanyak mungkin undangan karena ceramah menjadi salah satu sumber utama penghasilan.

Bahkan, dalam situasi tertentu, muncul perilaku saling menghadang, mencoba membatalkan atau “meng-cancel” jadwal ceramah pendakwah lain, mengambil alih kesempatan yang sebelumnya sudah diberikan kepada temannya, hingga membangun komunikasi tertentu dengan pihak penyelenggara agar jadwal tersebut berpindah kepadanya.

Yang lebih memprihatinkan, persaingan tersebut terkadang tidak berhenti pada perebutan jadwal. Sesama penceramah bisa saling menjelekkan, merendahkan kapasitas, mencari kelemahan, atau membangun persepsi negatif terhadap pendakwah lain hanya demi mendapatkan kesempatan tampil dan memperoleh honor.

Jika fenomena seperti ini benar-benar terjadi, maka ada sesuatu yang perlu kita renungkan secara serius.

Sebab bagaimana mungkin seseorang berdiri di atas mimbar mengajarkan persaudaraan, keikhlasan, ukhuwah, dan larangan merugikan orang lain, tetapi di luar mimbar justru berkompetisi dengan cara yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut?

Di sinilah pentingnya kemandirian ekonomi seorang pendakwah.

Memiliki pekerjaan lain bukan berarti mengurangi kesalehan atau mengurangi kualitas dakwah. Sebaliknya, pekerjaan yang halal dapat menjadi penyangga independensi seorang pendakwah.

Ketika kebutuhan rumah tangga tidak sepenuhnya bergantung pada honor ceramah, seseorang memiliki kebebasan yang lebih besar untuk berkata benar tanpa terlalu takut kehilangan undangan.

Sebab ketika kebutuhan dapur sepenuhnya bergantung pada mikrofon, ada risiko mikrofon perlahan-lahan menentukan apa yang keluar dari mulut.

Dakwah jangan sampai berubah menjadi arena perebutan “kue ekonomi”. Jangan sampai mimbar yang seharusnya menjadi tempat menyatukan umat justru menjadi sumber konflik antarpenceramah.

Pendakwah seharusnya berlomba dalam ilmu, akhlak, keteladanan, dan manfaat, bukan berlomba menjatuhkan sesama pendakwah demi sebuah amplop.

Karena itu, penting bagi seorang pendakwah untuk membangun sumber penghasilan yang halal di luar aktivitas ceramah. Ia bisa menjadi pengusaha, guru, akademisi, petani, pedagang, profesional, atau menjalankan pekerjaan lain sesuai kemampuan dan keahliannya. Dengan demikian, ceramah menjadi bagian dari pengabdian, bukan satu-satunya sandaran ekonomi keluarga.

Tentu saja, masyarakat dan penyelenggara kegiatan keagamaan juga memiliki tanggung jawab. Jangan memperlakukan pendakwah hanya sebagai “pengisi acara” yang dicari ketika dibutuhkan, tetapi kemudian persoalan penghargaan dan kesejahteraannya diabaikan.

Namun pendakwah juga harus menjaga batas moralnya.

Honor boleh diterima, tetapi jangan sampai honor menentukan harga diri. Jadwal boleh dicari, tetapi jangan sampai jadwal orang lain direbut. Kompetisi boleh terjadi, tetapi jangan sampai berubah menjadi saling menjatuhkan.

Sebab seorang pendakwah tidak hanya dinilai ketika mikrofon berada di tangannya. Ia juga dinilai dari bagaimana ia bersikap ketika mikrofon berada di tangan orang lain.

Pada akhirnya, dakwah membutuhkan dua jenis kekuatan: kekuatan ilmu dan kekuatan karakter. Dan untuk menjaga karakter itu, kemandirian ekonomi menjadi salah satu fondasi penting.

Sebab sangat ironis jika seseorang setiap hari mengajarkan bahwa rezeki telah diatur Allah, tetapi dalam praktiknya justru rela mengorbankan persaudaraan, kehormatan, bahkan prinsip-prinsip dakwah hanya karena mengejar honor.

Mimbar seharusnya menjadi tempat mencari ridha Allah, bukan medan perebutan rezeki. Dan pendakwah yang benar-benar merdeka adalah mereka yang mampu menyampaikan kebenaran tanpa harus menjatuhkan saudaranya demi mendapatkan bayaran. (*)

(Sebuah kajian kritis by. Andi Bachtiar)

 

Komentar