Safari Jokowi Bukan Karena Indonesia Tidak Baik-baik Saja!

JAKARTA, KORANMAKASSAR.COM — Ketua umum Gerakan Nusantara (Gentara), Zulfan Lindan beberapa waktu lalu bertandang ke rumah Presiden Republik Indonesia ke-7 Joko Widodo di kediamannya di Sumber, Solo, Jawa Tengah.

Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu diisi diskusi dengan mantan Walikota Surakarta tersebut. Diskusi diantaranya terkait dengan upaya Jokowi berkeliling ke sejumlah wilayah Indonesia.

“Upaya berkeliling ke daerah tidak boleh dimaknai sebagai upaya turun gunung untuk membenahi keadaan bangsa,” ujar Zulfan Lindan, Jumat 12 Juni 2026.

Menurut mantan anggota DPR RI ini, pemahaman tersebut keliru dan cenderung sengaja dibangun oleh pihak-pihak yang ingin mengait-ngaitkan setiap gerak langkah Jokowi dengan dinamika politik kekuasaan.

“Gentara adalah organisasi masyarakat lintas komunitas, lintas profesi, lintas generasi, dan lintas jaringan di tingkat nasional. Kami dikenal sebagai Ormas Relawan Super Tbk yang berbasis digital dan sedang dipersiapkan menjadi kekuatan sosial-politik yang mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka,” jelas Zulfan.

baca juga : Jokowi Gelar Silaturahmi dengan 157 Ketua Relawan dan Youtuber

Dalam pertemuan itu, Zulfan menangkap satu hal yang sederhana namun sangat mendalam, besarnya perhatian dan kecintaan Jokowi kepada rakyat Indonesia yang selama ini setia memberikan dukungan dan kasih sayang kepadanya.

Zulfan menngungkapkan, sejak masa jabatannya berakhir pada Oktober 2024, kediaman Jokowi di Jalan Kutai, Sumber, Solo, hampir tak pernah sepi.

Rakyat dari berbagai provinsi, berbagai profesi, dan berbagai latar belakang, bahkan dari pelosok negeri, datang hanya untuk bersalaman, berfoto, menyampaikan doa, serta mengucapkan terima kasih atas sepuluh tahun pengabdiannya memimpin Indonesia.

“Kalau selama hampir dua tahun rakyat berbondong-bondong datang ke Solo menemui pak Jokowi, maka sangat wajar hari ini ia ingin membalas silaturahmi tersebut dengan mendatangi rakyatnya secara langsung,” terangnya.

Zulfan menegaskan, hal ini bukan soal politik, bukan soal kekuasaan, melainkan soal hubungan batin antara seorang pemimpin dengan rakyat yang pernah dipimpinnya

“Antusiasme masyarakat yang begitu tinggi menyambut safari Jokowi khususnya di Lampung, Nusa Tenggara Timur dan Jawa Barat. Rakyat bersiap menyambut dengan suka cita. Di tengah hiruk-pikuk itu, muncul pula gosip murahan yang memelintir makna. Ada yang buru-buru bilang Jokowi turun gunung seolah-olah negeri ini sedang kacau dan membutuhkan penyelamatan besar,” ungkapnya.

Baca Juga : 8 Tahun jadi Pengawal Jokowi, Windra Sanur Pindah Tugas ke Tangerang

Dikatakan Zulfan, anggapan itu jauh dari kenyataan. Dalam kisah silat Mandarin klasik turun gunung biasanya dilakukan oleh murid yang baru selesai menuntut ilmu atau seorang suhu yang turun untuk menyelesaikan urusan besar dunia persilatan.

“Jokowi bukan murid yang baru belajar, dan bukan pula seorang suhu yang turun untuk menyelesaikan konflik. Beliau adalah seorang pemimpin yang telah menyelesaikan tugas kepresidenannya selama sepuluh tahun dengan dedikasi dan tanggung jawab yang luar biasa,” cetus Zulfan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, diusia yang masih relatif muda dan penuh energi sangat wajar jika Jokowi memilih tetap aktif berinteraksi dengan masyarakat.

Seorang pemimpin yang telah terbiasa bekerja untuk rakyat tentu akan merasa lebih bahagia berada di tengah-tengah mereka, daripada hanya berdiam diri.