Usia 84 Tahun, Jusuf Kalla dan Warisan “The Deal Maker” untuk Perdamaian dan Indonesia Modern

KORANMAKASSAR.COM — Pada tanggal 15 Mei 2028, H.M. Jusuf Kalla (JK) genap berusia 84 tahun. Di usianya yang senja, sosok yang akrab disapa JK ini bukan sekadar mantan Wakil Presiden dua periode (2004-2009 dan 2014-2019), melainkan sebuah institusi pemikiran, jembatan perdamaian, dan teladan pragmatis dalam politik Indonesia.

Melihat kembali jejak langkahnya, JK telah membuktikan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus dramatis atau penuh retorika kosong.

Bagi JK, kepemimpinan adalah tentang solusi, koneksi, dan keberanian mengambil jalan tengah demi kemaslahatan bangsa yang lebih besar.

Tulisan ini mengulas tiga pilar utama dari warisan intelektual dan moral JK: Reputasi sebagai “The Deal Maker”, Prestasi Konkret dalam Perdamaian dan Infrastruktur, serta Cakrawala Berpikir yang Melampaui Zaman.

1. Reputasi: “The Deal Maker” dan Jembatan Antar-Kelompok

Reputasi JK di kancah nasional maupun internasional melekat kuat sebagai seorang “Deal Maker” atau perumus kesepakatan. Dalam dunia politik yang sering kali terpolarisasi, JK memiliki kemampuan langka untuk merangkul pihak-pihak yang bertikai.

Pragmatisme yang Humanis: JK dikenal tidak ideologis secara kaku. Ia mampu berbicara dengan kaum ulama, jenderal, pengusaha, hingga aktivis muda. Pendekatannya yang cair memungkinkan ia menjadi mediator terpercaya dalam berbagai krisis politik.

Integritas Bisnis dan Politik: Sebagai pengusaha sukses sebelum masuk politik, JK membawa etos kerja efisiensi dan hasil (result-oriented) ke dalam birokrasi. Reputasinya bersih dari skandal korupsi besar adalah modal sosial yang membuatnya tetap dihormati bahkan oleh lawan politiknya.

Diplomat Tanpa Jabatan: Pasca-masa jabatannya, JK tetap aktif sebagai utusan khusus untuk isu-isu kemanusiaan dan perdamaian global, memperkuat citra Indonesia sebagai negara moderat dan penengah di mata dunia.

2. Prestasi Nyata: Dari Aceh hingga Infrastruktur Nusantara

Prestasi JK tidak hanya berupa wacana, tetapi tindakan nyata yang mengubah wajah Indonesia. Dua pencapaian besarnya menjadi tonggak sejarah modern Indonesia:

A. Arsitek Perdamaian Aceh

Pencapaian terbesar JK adalah perannya sebagai kunci utama dalam Perjanjian Damai Helsinki (2005) yang mengakhiri konflik 30 tahun di Aceh. Bersama tim negosiator, JK berani mengambil risiko politik dengan membuka dialog rahasia dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Keberaniannya menerobos kebuntuan militeristik dengan pendekatan humanis dan politik telah menyelamatkan ribuan nyawa dan menjaga keutuhan NKRI. Ini adalah bukti bahwa “jalan damai” selalu lebih mulia daripada “jalan perang”.

B. Akselerator Infrastruktur dan Konektivitas

Dalam kedua periode kepemimpinannya, JK menjadi motor penggerak pembangunan infrastruktur masif. Ia memahami bahwa kemiskinan di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh ketiadaan konektivitas.

Tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatera: Visi JK untuk menghubungkan pulau-pulau besar dimulai dari percepatan pembebasan lahan dan pembiayaan proyek strategis nasional.

Kelistrikan 35.000 MW: Meskipun kontroversial di awal, program ini menunjukkan fokus JK pada kebutuhan dasar industri dan rakyat.

Bandara dan Pelabuhan: Pembangunan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) adalah wujud keberpihakan JK pada pemerataan ekonomi, bukan hanya Jawa-sentris.

3. Cakrawala Berpikir: Filosofi “Berpikir Besar, Mulai dari Kecil”

Di usia ke-84, cakrawala berpikir JK tetap relevan dan bahkan semakin dibutuhkan di era disrupsi saat ini. Ada beberapa prinsip pemikiran JK yang menjadi warisan intelektual bagi bangsa:

A. Meritokrasi dan Efisiensi Birokrasi

JK konsisten menyuarakan perlunya birokrasi yang ramping dan berbasis kinerja. Ia sering mengkritik lambatnya perizinan dan tumpang tindih regulasi. Pemikirannya tentang digitalisasi layanan publik dan pemangkasan ego sektoral adalah resep ampuh untuk meningkatkan daya saing Indonesia di mata global.

B. Moderasi Beragama dan Kebhinekaan

Sebagai tokoh Muhammadiyah, JK adalah contoh nyata Islam yang moderat, ramah, dan progresif. Ia menolak keras politisasi agama dan identitas. Baginya, agama harus menjadi sumber etika sosial dan pemberdayaan umat, bukan alat untuk memecah belah. Cakrawala berpikirnya tentang Islam Rahmatan lil ‘Alamin menjadi penangkal radikalisme yang masih mengintai masyarakat digital.

C. Kewirausahaan Sosial dan Kemandirian Ekonomi

JK selalu menekankan bahwa kemiskinan tidak bisa diselesaikan hanya dengan bantuan sosial (bansos), tetapi dengan pemberdayaan ekonomi. Dukungannya terhadap UMKM, koperasi, dan ekonomi kerakyatan menunjukkan pemahamannya bahwa kekuatan ekonomi nasional terletak pada jutaan pelaku usaha kecil, bukan hanya konglomerasi.

D. Optimisme Masa Depan

Di usia 86 tahun, JK tetap optimis terhadap masa depan Indonesia. Ia percaya bahwa bonus demografi dan kelas menengah yang tumbuh akan menjadi tulang punggung kemajuan Indonesia. Pesannya kepada generasi muda:

“Jangan takut bermimpi, tapi pastikan mimpi itu dikerjakan dengan kerja keras dan kejujuran.”

Penutup: Warisan Abadi untuk Indonesia

H.M. Jusuf Kalla di usia ke-86 bukanlah figur yang pensiun dari kehidupan publik. Ia adalah tetua negara (statesman) yang terus memberikan nasihat, kritik konstruktif, dan teladan.

Reputasinya sebagai pemersatu, prestasinya dalam perdamaian dan pembangunan, serta cakrawala berpikirnya yang pragmatis-religius adalah aset bangsa yang tak ternilai.

Di tengah polarisasi politik yang sering kali memecah belah, figur JK mengingatkan kita bahwa perbedaan adalah keniscayaan, namun persatuan adalah pilihan strategis.

Selamat ulang tahun ke-86, Bapak Jusuf Kalla. Terima kasih atas segala dedikasi, keringat, dan pikiran yang telah Engkau curahkan untuk Indonesia. Semoga kesehatan dan kebijaksanaanmu terus menjadi lentera bagi bangsa ini menuju Indonesia Emas 2045.

Saya tidak mencari popularitas, saya mencari solusi.” — Jusuf Kalla

 

Oleh : Muhammad Askar, SKM Penulis Opini Politik & Sejarah

Komentar